Namun yang jelas, bibit ketidakpuasan terhadap pemerintahan SBY-Boediono semakin melebar. Menurut data terakhir Indeks Pembangunan Manusia Indonesia mengalami penurunan dan kini berada di posisi 111, jauh di bawah beberapa negara Asia Tenggara, Filipina (100), Thailand (94), Malaysia (59), dan Singapura (27).
Namun sayangnya, di sisi lain Presiden SBY terlihat lebih disibukkan oleh urusan korupsi dan konflik internal Partai Demokrat yang dipimpinnya.
Apakah gerakan massa di Malaysia akan menginsipirasi gerakan serupa di tanah air?
“Aksi di Malaysia itu adalah bagian dari show of force oposisi. Gerakan mereka sudah dibangun sejak lama. Di Indonesia, ada kondisi objektif dan subjektif sendiri,†ujar Ketua Umum Relawan Pejuang Demokrasi (Repdem), Masinton Pasaribu, kepada Rakyat Merdeka Online beberapa saat lalu (Minggu, 10/7).
Sejauh ini gerakan ekstra parlementer di Indonesia efektif bila mahasiswa sebagai elemen utama mulai turun ke jalan. Sementara elite patai politik percaya pada kalender Komisi Pemilihan Umum (KPU), yakni Pemilu 2014, sehingga sulit diharapkan mengambil inisiatif.
“Praktis gerakan oposisi saat ini berjalan tanpa dukungan elite partai karena elite partai belum memiliki kesepahaman mengenai siapa yang menggantikan SBY bila aturun sebelum 2014,†ujar Masinton lagi.
Padahal, sambung dia, sulit membayangkan Pemilu 2014 dapat digelar dengan jujur dan adil serta menghasilkan perubahan yang positif secara signifikan bagi Indonesia. Masinton khawatir manuver Partai Demokrat akan semakin menjadi-jadi mengingat banyak kader partai itu yang terancam masuk penjara bila partai itu kalah. [zul]
Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.
BERITA TERKAIT: