Ketua Front Pembela Islam, Habib Rizieq Syihab menyebut setidaknya ada empat langkah yang bisa dilakukan pemerintah untuk mencegah eksekusi mati terhadap TKW asal Bekasi yang telah mengakui membunuh majikannya, Khoiriyah, di Mahkamah Am (tingkat I) Arab Saudi.
"Pertama, secara kekeluargaan mestinya ada pendekatan intensif oleh KBRI di Saudi kepada keluarga korban agar diberikan maaf, sehingga hukum mati digugurkan dengan maaf. Kedua, secara hukum mestinya Ruyati didampingi pengacara handal yang disediakan pemerintah RI untuk membelanya dalam sidang. (Dalam Pidana Islam) apabila pembunuhan dilakukan dalam rangka bela diri maka tidak ada qishosh (hukuman serupa, dalam hal ini menghilangkan nyawa)," ujar Rizieq dalam rilis yang diterima redaksi, (Selasa malam, 21/6).
Ketiga, lanjut Rizieq, secara politik Presiden SBY melakukan diplomasi empat mata dengan Raja Abdullah. Gunaka lobi tingkat tinggi terhadap Raja Abdullah, seperti yang dilakukan Presiden Abdurrahman Wahid melobi Raja Arab Saudi untuk meloloskan Siti Zaenab dari hukuman pancung tahun 1999 lalu.
"Terakhir, cara manapun yang berhasil, pemerintah secepatnya menyiapkan pembayaran diyatnya (uang tebusan) sebagai ganti qishos," tambah Rizieq.
Bisa dipastikan, kata Rizieq, eksekusi pancung Ruyati tak bisa dihindarkan lantaran pemerintah tidak melakukan keempat langkah tadi. Pemerintah tahu setelah Ruyati diesksekusi. Jadinya, keempat langkah tadi menjadi 'dosa' yang dilakukan pemerintah terhadap Ruyati.
"Ingat, TKW kita ke Arab Saudi untuk mencari nafkah, bukan untuk membunuh. Ada banyak kekerasan, penyiksaan, penganiyaan, pemerkosaan bahkan pembunuhan yang kerap terjadi pada TKI," tutupnya.
[dem]
BERITA TERKAIT: