"Sehinga bukan hanya saya, publik pun bertanya di mana akar teroris. Di dunia tidak ada teroris diurus polisi. Ada garda pasukan khusus. Jadi saya bertanya agenda teroris ini untuk apa. Apakah untuk pengalihan isu atau agar dana terus masuk dari luar. Seperti yang kita tahu bagaimana mungkin bom buku di BNN tidak ketahuan," kata mantan anggota Komisi I DPR, Ali Mochtar Ngabalin, di kediaman Jusuf Kalla, Jalan Brawijaya, Jakarta (Minggu, 15/5).
Kalau sampai hari ini ada rakyat yang menjadi korban tertembak, seperti yang dialami pedagang angkringan di Sukoharjo dalam penggerebekan Densus 88 kemarin malam, menurutnya, tidak ada cara lain negara harus menunjukkan bahwa aparat melakukan kesalahan itu.
Selain itu, Ali Mochtar juga mengaku bingung, kenapa orang yang diduga teroris itu selalu ditembak mati. Dia heran, mengapa Densus 88 tidak bisa menangkap hidup-hidup agar bisa diperoleh informasi dari terduga teroris tersebut.
"Saya pernah bilang dari dulu cara agar meloloskan RUU itu dengan berbagai cara. Setiap kali ada pembahasan selalu ada peristiwa, kasus-kasus seperti begini. Sebagai mantan anggota komisi I, boleh dong saya berpendapat seperti ini. Itu (RUU Intelijen) aturan sesat menyesatkan. Kita tolak," katanya menanggapi anggapan bahwa penggerebekan teroris belakangan ini diduga untuk meloloskan RUU Intelijen.
[yan]
BERITA TERKAIT: