Pasalnya, seorang warga sipil, yang berprofesi sebagai pedagang angkringan, Nur Iman, terserang pelusu nyasar.
"Kalau teroris yang sudah dalam pengintaian dan sudah dipastikan bahwa rumah yang diintai itu rumah teroris, tentu segala sesuatu pergerakan teroris ini sudah dalam pengamatan," kata Ketua Komnas HAM Ifdhal Kasim di rumah Jusuf Kalla, Jalan Brawijaya, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, di sela-sela acara syukuran ulang tahun JK ke-69, (Minggu, 15/5).
"Karena sudah dalam pengamatan, informasi yang diperoleh Densus 88 untuk melakukan penindakan cukup kuat. Makanya sudah bisa dilakukan pengamanan di lokasi itu, bisa diperkecil, dampaknya bagi masyarakat," sambungnya.
Tapi menurutnya, sistem inilah yang tidak bekerja dengan baik. Akibatnya, saat Densus 88 mengejar teroris dan teroris berbalik sambil melakukan penembakan, begitu juga dengan Densus 88 melakukan hal yang sama, suara tembakan menarik perhatian masyakat dan menonton.
"Kita tidak tahu posisi persisnya, pedagang angkringan ini, Saudara Nur Iman, sehingga terkena peluru gitu. Harusnya ini bisa dihindari kalau pengamanan di lokasi sudah dilakukan terlebih dahulu," sesalnya
.[dry]
BERITA TERKAIT: