Setidaknya, itulah yang dialami Sukanto, mantan kader NII yang kini tobat. Persentuhannya dengan NII saat dia masuk duduk di bangku SMA pada tahun 1996 di Jakarta. Sukanto saat itu ditemui oleh beberapa orang yang berasal dari NII.
Yang membuat Sukanto tertarik bukan hanya karena materinya, tapi juga karena orang yang menjelaskan materi itu, yang mumpuni.
"Setelah itu, setiap hari saya dibina. Kedua, materinya mulai meningkat bukan lagi soal Indonesia. Tapi tentang kebangkitan Islam," kata Sukanto yang saat ini menjabat sebagai Ketua Crisis Center, dalam diskusi di dialog kenegaraan," Penanganan NII di Berbagai Daerah" di komplek parlemen, Senayan Jakarta (Rabu, 4/5).
Pada pertemuan kedua ada dua materi yang disampaikan, yaitu tentang negara menurut Al-Quran dan juga sejarah NII. Mulailah dikatakan bahwa Indonesia negara yang tidak sah, karena bertentangan Negara Islam Indonesia. Makanya, selain NII adalah kafir, saat itulah dia diajak untuk hijrah ke NII dan berjihad untuk mendirikan NII.
"Saya sebenarnya heran. Tapi kalau bicara soal jihad, itu kan seksi, yang jarang dibicarakan saat itu. Saya putuskan ikut," tandasnya.
[arp]
BERITA TERKAIT: