"Itu salah 2000 persen. Partai kita itu, mulai dari BURT tidak setuju. Kalau partai lain kan ada yang jadi pimpinan BURT setuju, terus farksinya menolak. Ada partai lain mendukung tapi terus tiba-tiba di luar menolak. Kalau kita ini
firm terus," tegas Ketua Fraksi PAN Tjatur Sapto Edy kepada
Rakyat Merdeka Online sesaat lalu (Minggu, 10/4).
Dua partai yang disinggung Tjatur itu adalah Gerindra dan PDI Perjuangan. Gerindra menolak tapi memiliki kader di BURT yang setuju pembangunan gedung DPR berlanjut. Sedangkan, PDI Perjuangan sepakat pada saat rapat konsultasi (Kamis, 7/4), tapi
walkout pada Sidang Paripurna DPR, (Jumat, 8/4).
Nah, PAN disebut sebagai partai plintat-plintut karena menolak rencana pembangunan gedung baru DPR tapi tidak melakukan walkout pada Sidang Paripurna, seperti yang dilakukan PDI Perjuangan dan Gerindra.
Wakil Ketua Komisi III DPR ini mengakui pihaknya tidak
walkout. Karena menurutnya, cara itu tidak dikenal dalam sistem demokrasi. Apalagi,
walkout tidak menyelesaikan masalah. Makanya, PAN mengusulkan agar digelar
voting, tapi tidak digubris oleh Pimpinan Sidang, Priyo Budi Santoso.
"Kita ini tidak mau kasar. Kita maunya dengan cara yang jernih. Jadi sampai kita duduk bersama untuk membicarakan ulang, mulai dari desain sampai anggaran yang memenuhi aspirasi masyarakat, sejauh itu (tidak dilakukan) kami tidak menyetujui. Sampai kiamat pun kami tidak menyetujui. Kita akan terus dorong dibicarakan ulang. Karena ini rumah rakyat. Artinya tidak boleh rakyat ditinggalkan," tegasnya.
[zul]
BERITA TERKAIT: