Hal itu dikatakan Direktur Eksekutif The Political Literacy Institut, Gun Gun Heryanto kepada
Rakyat Merdeka Online menanggapi keputusan DPR yang tetap melanjutkan pembangunan gedung DPR.
Dengan kasus ini, menurutnya, akar demokrasi perwakilan yang menjadi pilihan kita tak lagi kontekstual. Karena seharusnya dalam substansi demokrasi perwakilan, anggota DPR mewakili kehendak rakyat bukan parpol atau segelintir elit yang menerapkan tradisi oligarki.
"Jika rencana tetap melaju juga, maka kredibilitas lembaga DPR benar-benar di titik nadir," tegasnya (Jumat, 8/4).
Bagaimana dengan imbauan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono agar sebaiknya rencana itu ditunda atau dibatalkan?
Menurut dosen Ilmu Komunikasi Politik UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini, seruan SBY untuk menunda pembangunan gedung tersebut sangat terlambat, hanya beberapa jam sebelum DPR menggelar rapat konsultasi untuk membuat keputusan. Sedangkan, masyarakat sudah jauh-jauh hari menyatakan menolak rencana itu.
Karena itu, tambahnya, wajar jika imbauan SBY tak memiliki 'tuah' berarti bagi penghentian ataupun penundaan.
"Jika pun rencana (pembangunan gedung DPR) itu ditunda, bukan karena ucapan SBY saya kira, melainkan karena semakin dahsyatnya gelombang penolakan dari kelompok-kelompok
civil soceity. Sehingga dalam perspektif teori
spiral of silence dari Elizabeth Noelle-Neumann, jika terbentuk opini mayoritas, maka opini minoritas cenderung diam atau menyesuaikan," katanya berteori.
[zul]
BERITA TERKAIT: