Jurubicara Presiden Julian Aldrin Pasha mengatakan, sampai saat ini surat itu belum tiba di meja Sekretaris Pribadi Presiden SBY. Kementerian Luar Negeri juga belum bisa menjelaskan lebih detail karena belum membaca.
Namun demikian, ada saran menarik yang disampaikan aktivis prodemokrasi Adhie Massardhie. Jurubicara Gerakan Indonesia Bersih itu menyakini bahwa surat tersebut memang ada. Kalau pun belum tiba di meja SBY, paling-paling hanya persoalan waktu saja.
Adhie menyarankan, agar SBY memberikan respons yang pantas dan tegas terhadap surat itu. Jangan sampai diabaikan. Karena ini berkaitan dengan masa depan SBY.
Sebut Adhie kepada
Rakyat Merdeka Online beberapa saat lalu, kalau SBY mengabaikan surat itu, ke-27 anggota Kongres dapat menggunakan pengaruh mereka untuk memboikot SBY.
"Bayangkan bila ada perubahan signifikan di Indonesia, dan SBY terpaksa turun dari jabatannya di tengah jalan. Pemerintah Amerika tidak akan mau memberikan perlindungan untuk dirinya. Misalnya, tidak akan mau memberikan suaka. Jadi agar tidak fatal, harus dikomentari," sebut Adhie serius.
Apa yang akan dialami SBY bila perubahan politik terjadi dan SBY tetap memilih tinggal di Indonesia? Adhie menjawab pertanyaan itu dengan tak kurang seriusnya.
"Karena terlalu banyak lawan politik, juga orang yang sakit hati karena dikhianati, maka bukan tidak mungkin SBY akan tercatat sebagai mantan presiden Indonesia pertama yang setelah tak berkuasa diadili dan kemudian masuk bui," demikian Adhie lagi.
[zul]
BERITA TERKAIT: