Menurut peneliti konflik dan perdamaian dari Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta, Teguh Santosa, bom yang dikemas menyerupai buku yang dikirimkan kepada Ulil Abshar-Abdalla, Ahmad Dani, Kepala Badan Nasional Narkotika (BNN) Komjen Gories Mere dan Japto Soerjosoemarno, dapat dikatakan merupakan modus baru.
Dari wujudnya dapat disimpulkan bahwa bom itu diciptakan oleh pihak yang memiliki keahlian tinggi. Sementara dari daya ledak yang “hanya†low explosive dapat disimpulkan bahwa si pelaku tidak benar-benar berniat menghabisi nyawa korban. Bom itu juga tidak menggunakan timer sebagai alat bantu picu ledak, baik digital maupun mekanis. Sehingga sebetulnya, bila tidak diintervensi bom tersebut tidak akan meledak.
Teguh juga mengatakan, keliru bila ada pihak yang mengatakan bahwa bom buku ini sama seperti bom yang digunakan dalam konflik horizontal di sejumlah daerah di Indonesia beberapa tahun lalu. Bom yang digunakan di daerah konflik beberapa tahun lalu memiliki daya ledak yang hebat karena dimaksudkan untuk menghabisi lawan. Dia khawatir tudingan seperti itu, yang tidak didukung oleh proses penyelidikan dan penyidikan yang memadai dari lembaga-lembaga otoritatif, justru dapat memperpanas suasana.
“Atau, bisa jadi (tuduhan prematur tentang siapa yang berada di balik bom) sengaja disampaikan agar masyarakat berpikir ke arah yang diinginkan oleh si pembuat bom sesungguhnya,†demikian Teguh. [zul]
Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.