"Saya melihat ada tangan-tangan kotor yang mulai berupaya mengeskalasi sekaligus mempertegas dikotomi Islam Konservatif versus Islam Liberal di Indonesia. Saya tidak percaya pada asumsi bahwa pelaku teror bom buku adalah kelompok-kelompok yang menentang Islam liberal," kata anggota Komisi III DPR Bambang Soesatyo hari ini (Kamis, 17/3).
Keyakinannya bahwa teror bukan dari kelompok yang benci pada aktivis Islam liberal mengacu pada dua indikator. Pertama, terangnya, umat beragama sudah sangat terbuka, baik dalam bersikap maupun menyatakan pendapatnya. Keterbukaan itu bisa dilihat dalam polemik seputar eksistensi Ahmadiyah di Indonesia.
"Kalau pun ada sekelompok umat yang bersikap ekstra keras, mereka mengaktualisasikan kemarahan mereka secara terbuka, tidak sembunyi-sembunyi a la pelaku pengirim bom buku. Kalau pun terjadi kekerasan berdarah seperti di Cikeusik,
toh aksi kekerasan Cikeusik ternyata direkayasa," terang fungsionaris DPP Partai Golkar ini.
Indikasi kedua, masih kata Bamsoet, demikian ia akrab disapa, target tiga bom buku itu tidak mematikan. Menurutnya, bom itu dirakit oleh orang yang ahli dan direkayasa agar bisa meminimalkan korban.
"Kalau pelakunya benar-benar penentang Islam liberal, saya yakin teror itu pasti mematikan. Pelakunya hanya ingin mencari sensasi dan menciptakan kehebohan baru agar publik segera berpaling dari tsunami
WikiLeaks yang sedang mengguncang jantung kekuasaan," tandasnya.
[zul]