Ginandjar: Kuntoro, Pejabat Paling Tepat untuk Koordinasikan Bantuan ke Jepang

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/zulhidayat-siregar-1'>ZULHIDAYAT SIREGAR</a>
LAPORAN: ZULHIDAYAT SIREGAR
  • Senin, 14 Maret 2011, 16:36 WIB
Ginandjar: Kuntoro, Pejabat Paling Tepat untuk Koordinasikan Bantuan ke Jepang
kuntoro mangkusubroto/ist
RMOL. Guna memberikan bantuan kepada masyarakat di Jepang yang baru dilanda musibah gempa dan tsunami Jumat kemarin, anggota Dewan Pertimbangan Presiden,  Ginandjar Kartasasmita, sudah menghubungi Duta Besar Indonesia di Jepang, dan tokoh-tokoh masyarakat Jepang, baik dari kalangan politisi, akademisi, dunia usaha maupun civil society.

Dia juga akan terus menerus berhubungan dengan Duta Besar Jepang di Indonesia.

"Dengan pihak Pemerintah Indonesia saya berhubungan dengan Saudara Kuntoro Mangkusubroto, yang  memiliki banyak pengalaman dalam mengatasi pasca-bencana tsunami di Aceh," katanya melalui keterangan pers yang diterima Rakyat Merdeka Online sesaat lalu  (Senin, 14/3).

"Pak Kuntoro juga banyak sekali berhubungan dengan pemerintah negara sahabat, lembaga internasional maupun civil society dalam menjalankan tugasnya sebagai Kepala BRR Aceh. Saya berpendapat beliau adalah pejabat yang paling tepat untuk mengkoordinasikan bantuan Indonesia ke Jepang, yang bisa berasal dari pemerintah maupun masyarakat," ungkapnya.

Bahkan, lanjut mantan Ketua DPD ini, tadi siang Kuntoro, sebagai pimpinan Badan Rehabilitasi dan Rekonstruks Institute, telah menghimpun sekitar 30 organisasi kemanusiaan baik nasional maupun internasional yang berada di Indonesia. Pertemuan juga dihadiri wakil dari Kedubes Jepang. Dalam pertemuan tersebut disepakati, Indonesia akan masih menunggu permintaan spesifik apa yang diperlukan pihak Jepang mengingat khasnya bencana di Jepang.

"Pak Kuntoro menyampaikan pesan bahwa bagi mereka yang ingin ikut serta membantu atau berempati dipersilahkan menghubungi BRR Institute di websitenya; www: bbrinstitute.org," terangnya.

Dia melanjutkan, rakyat Indonesia patut menarik pelajaran, bahwa Jepang negara-negara di dunia yang berpotensi terancam dan telah memiliki sistem dan teknologi yang termaju, ternyata kesemuanya masih belum memadai untuk menghidari terjadinya korban besar akibat bencana alam itu.

"Mungkin tanpa kesiapan dan sistem serta teknologi yang canggih itu korban dapat menjadi lebih besar lagi. Kita harus makin sadar, bahwa kita tidak mungkin melawan alam, yang dapat dan patut dilakukan adalah lebih memahami dan bersahabat dengan alam," tandasnya. [zul]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA