Selama berada di Pattani, kata Saleh, para peserta benar-benar merasakan betapa suasana konflik masih menyelimuti daerah itu. Tentara negara Thailand berada di hampir seluruh sudut kota dan selalu aktif melakukan pemeriksaan-pemeriksaan terhadap kenderaan-kenderaan yang hilir mudik memasuki wilayah kota Pattani.
Pemandangan semacam ini tentu dapat menambah empati para peserta terhadap penduduk kota Pattani. Apalagi, panitia menyiapkan waktu khusus kepada beberapa orang wanita Pattani untuk menjelaskan ketidakadilan yang mereka rasakan selama ini dari pemerintah Thailand.
"Melalui kunjungan langsung ke kota Pattani, saya sendiri semakin menemukan arti penting untuk membantu wilayah-wilayah konflik semacam ini," kata Saleh P Daulay, kepada
Rakyat Merdeka Online, Sabtu malam melalui sambungan telepon di sela-sela penutupan acara tersebut.
"Dalam kaitan itu, saya melihat bahwa keputusan Pimpinan Pusat Muhammadiyah untuk memberikan beasiswa kepada 40 orang mahasiswa asal Pattani untuk belajar di beberapa universitas Muhammadiyah pada tahun lalu adalah keputusan dan tindakan yang sangat tepat. Program ini tentu saja belum cukup dan masih perlu ditingkatkan lagi dengan melibatkan berbagai organisasi lain, khususnya yang berkesempatan hadir pada konferensi ini," kata Saleh menambahkan.
Pada bagian lain, Saleh berharap agar komunitas
civil society dan NGO international yang hadir pada konferensi itu dapat membina komunikasi dan jaringan yang lebih baik di masa yang akan datang agar memiliki nilai pressure yang diperhitungkan di pentas international.
Ia menyadari bahwa upaya penciptaan perdamaian bukanlah hal yang mudah untuk dilaksanakan. Semua pihak harus bekerja keras agar nilai-nilai keadilan dan kemanusiaan dapat segera terwujud, khususnya bagi mereka yang hidup di daerah-daerah konflik.
[zul]
BERITA TERKAIT: