Tindakan yang menuai protes dari Komandan Pangkalan TNI Angkatan Udara Medan itu kian menambah daftar panjang dari sikap arogan Densus selama ini.
"Kita memang apresiasi dengan tugas dan kerja dalam memberantas terorisme. Itu tidak bisa pungkiri. Tapi, akhir-akhir ini tindakan Densus telah melampaui tupoksi yang ada pada dirinya. Dia memang terkesan over acting, arogan, ini karena tidak ada kontrol," ujar anggota Komisi III DPR Ahmad Yani kepada
Rakyat Merdeka Online sesaat lalu (Selasa, 21/9).
Politsi Partai Perstuan Pembangunan ini mengingatkan Densus 88 bukanlah lembaga
superbody dan mandiri yang tidak terkait dengan lembaga lain. Dalam hal di Bandara, sebutnya, Densus harus berkoordinasi dengan petugas TNI AU yang memang ditugaskan itu. Jadi tidak bisa bisa asal menerbos.
"Itu karena SOP (Standar Operasional Prosedure) Densus ini tidak jelas. Jadi mereka bisa berbuat seenaknya. Makanya, SOP nya harus dipertegas," tandasnya.
Ahmad Yani juga menyoroti keterlibatan Densus pada penggerebekan pelaku perampok di Bank CIMB Medan di Tanjung Balai Sumatera Utara dan tempat lainnya. Menurutnya, Densus saat ini sudah mencengkram berbagai lini. Padahal pengusutan perampokan itu ada di bawah kendali bagian reserse Polri.
"Tapi kini Densus juga terlibat dengan alasan ada terkait dengan terorisme. Harusnya ada dulu penyelidikan bahwa itu terkait dengan teroris dan juga bahwa Polda daerah kekurangan personel baru diminta bantuan. Jangan-jangan terorisme itu hanya sebagai pembenar. Kalau fakta itu betul, kita hraus koreksi total. Karena Densus ini sudah seperti Pangkomkamtib pada orde baru yang mencari-cari alasan untuk menyikat kelompok ekstem kanan atau kiri," tegasnya.
[zul]
BERITA TERKAIT: