WAWANCARA

Anas Urbaningrum, Tidak Ada Dikotomi Tua Muda Jadi Ketua Fraksi Demokrat ­

Senin, 02 Agustus 2010, 10:10 WIB
Anas Urbaningrum, Tidak Ada Dikotomi Tua Muda Jadi Ketua Fraksi Demokrat ­
Jakarta, RMOL.

Ketua Umum Demokrat Anas Urbaningrum menghadap ke Dewan Pembina Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) di Cikeas, Minggu malam (25/7).

Beredar kabar ketika itu,  pertemuan tersebut terkait pem­bahasan siapa yang pas menjadi Ketua Fraksi Partai Demokrat DPR yang akan ditinggalkan Anas.

“Banyak hal yang didiskusikan . Ada urusan internal partai dan ada urusan yang lebih penting dari itu (Ketua Fraksi). Tidak luar biasa. Karena memang Demokrat sedang menjadi partai pemerintah dan Ketua Dewan Pembina-nya adalah Presiden kita saat ini,” kata Anas Urbaningrum, kepada Rakyat Merdeka, di Jakarta, Sabtu (31/7).

Apa saja yang dibahas dalam pertemuan itu?

Sebagai Ketua Umum Partai Demokrat tentu harus berko­munikasi intensif dengan Ketua Dewan Pembina Partai Demo­krat. Itu sudah rutin dan biasa. Memang termasuk diskusi ten­tang peningkatan kinerja anggota Fraksi Partai Demokrat  DPR. Kami ingin Fraksi Demokrat bisa menjadi contoh yang baik. Soal kehadiran dan keaktifan misal­nya, itu menjadi perhatian dari kami.

Selain itu, apa lagi yang di­bicarakan?

Banyak hal yang didiskusikan. Ada urusan internal partai dan ada urusan yang lebih penting dari itu. Tidak luar biasa. Karena memang Demokrat sedang menjadi partai pemerintah dan Ketua Dewan pembinanya adalah Presiden.

Apakah SBY sudah mem­be­ri­kan sinyal terkait figur pe­nun­jukan Ketua Fraksi?

Selaku Ketua Dewan Pembina, beliau memberikan arahan umum yang kami perhatikan dengan seksama. Fraksi itu sebagaimana kita ketahui bersama adalah per­panjangan tangan Dewan Pim­pinan Pusat (DPP) Demokrat di DPR. Sementara Demokrat kini adalah partai terbesar di parle­men, ruling party. Presiden kita sekarang adalah kader Partai Demokrat. Ketua Fraksi DPR mengamankan semua kebijakan eksekutif di parlemen untuk menjalankan cita-cita kesejah­teraan rakyat.

Sejauh ini sudah beredar calon-calon Ketua Fraksi se­perti Sutan Bhatoegana,  Jafar Hafsah, Taufik Effendy, Hayo­no Isman, dan Saan Mustopa, bagaimana figur-figur ter­se­but?

Saya dekat dan sangat baik dengan semuanya. Pejam mata saja, yang jadi Ketua Fraksi Partai Demokrat adalah terbaik. Karena stoknya memang pantas dan mampu semua. Masih ada lagi nama-nama lain yang juga mampu. Pokoknya enak me­milih dari yang baik-baik dan mampu-mampu semua. Dan yang penting kan bukan kom­petisi. Ini bukan kongres. Ini hanya soal pem­ba­gian tugas saja. Bahwa kemudian ada yang melihat ada kontestasi, itu wajar dan baik saja.

Maksudnya?

Dalam iman politik saya, da­lam kontestasi yang sehat inilah yang akan melahirkan demokrasi yang produktif, di dalamnya semua pihak percaya bahwa semua insentif politik didistri­busikan secara sehat dan kom­petisi sekeras apapun dilandasi dengan semangat memajukan partai.

Saya bersyukur itu terjadi di Demokrat, dari kongres, hingga pergantian ketua fraksi. Terjadi akumulasi pengalaman pembe­lajaran yang dipercepat, yang akseleratif di dalam partai kami.  Itu yang terjadi dalam nominasi nama-nama calon ketua fraksi pengganti saya.

Tapi jabatan Ketua Fraksi yang Anda tinggalkan telah jadi perdebatan di internal Fraksi?

Yang terjadi sesungguhnya bukan perdebatan. Kontestasi lebih tepat. Kontestasi ide dan gagasan. Calon-calon  ketua fraksi yang semuanya baik itu bisa mengkontestasikan apa gagasan, visi dan konsep yang tepat dalam memimpin kerja fraksi ke depan. Hal ini penting karena yang terpilih nanti akan memimpin fraksi dari partai pendukung  pemerintah. Spesi­fiknya, harus menyeimbangkan antara membangun soliditas internal anggota fraksi dan ko­munikasi ekternal dengan fraksi-fraksi lain yang ada di Senayan.

Selain itu apa lagi?

Mampu memimpin dari level konsep hingga implementasi,  mengeksekusi posisi politik partai di tingkat ideolgis dan praksis sekaligus, menjalankan apa yang saya sebut dalam pi­dato pelantikan saya tempo hari se­bagai pragmatisme positif, men­jalankan kebijakan politik berbasis gagasan yang jelas.

Ada yang menginginkan agar Ketua Fraksi dijabat dari ka­langan muda seperti Anda?

Di internal justru isu itu tidak mengemuka, karena masalah senior dan muda untuk kepemi­pinan fraksi tidak relevan. Ke­pemimpinan kaum muda sudah lahir di Partai Demokrat. Mayo­ritas pengurus yang sudah di­lantik juga banyak yang muda-muda dan melibatkan senior-senior juga yang kom­peten. Masalah itu tidak menjadi isu untuk kali ini. Kami tidak men­tradisikan dikotomi tua muda. Di demokrat, isu umur tidak relevan.

Yang jelas, asasnya adalah ke­mampuan dan ketepatan peran. Kalau soal kemampuan, di Sena­yan kami punya lebih dari 10 kader yang mampu men­jadi ketua fraksi. Tetapi tentu hanya satu yang paling tepat meme­rankan tugas ketua fraksi itu untuk saat ini.

Pembawaan Anda sangat tenang saat menjabat ketua fraksi, apakah penting bagi siapapun ketua fraksi terpilih memiliki pembawaan tenang seperti itu?

Pembawaan orang itu tentu masing-masing ya. Setiap orang berbeda. Potongan kita masing-masing sudah ditentukan oleh cetakan Tuhan dan sejarah pe­nga­­laman pribadi. Menjadi ketua fraksi itu bukan seleksi per­so­nality, kepribadian, dan pe­nam­pilan. Yang diseleksi adalah orang dengan rekam jejak, visi, gagasan, dan kete­patan sebagai dirigen 148 anggota DPR dari Demokrat di DPR, sekaligus membangun hubungan  horison­tal dengan teman-teman fraksi yang lain. Dan satu lagi, bisa  men­­jadi katalisator politik dengan pemerintah.

Melihat kondisi DPR saat ini, sebenarnya figur bagaimana yang cocok menjabat Ketua Fraksi?

Senayan adalah etalase poli­tik partai manapun juga. Tak ter­kecuali demokrat. Karena itu, ketua fraksi adalah dirijen untuk mengatur tampilan fraksi di mata publik. Tampilan yang saya maksud adalah bagaimana setiap anggota Fraksi Partai Demokrat bisa maksimal men­jalankan fungsi legislasi, angga­ran dan pengawasan dengan baik. Me­mimpin rombongan besar, 148 orang, jelas lebih me­nantang ketimbang rom­bongan yang lebih kecil.

Seberapa penting ketua frak­si terpilih mampu menjaga ritme bersama mitra koalisi?

Tugas utama ketua fraksi adalah menyuarakan kepentingan partai dan memimpin orkestra anggota DPR dari Demokrat. Koalisi merupakan bagian dari strategi politik yang dipilih Demokrat jadi secara inheren tugas itu melekat, yaitu  untuk membangun kerja sama dengan mitra koalisi dalam kerja-kerja keparlemenan. Harus juga luwes di Setgab Parpol Koalisi.

Anda banyak mendapat tan­tangan saat menjabat Ketua Fraksi, apakah punya weja­ngan-wejangan kepada ketua fraksi terpilih nanti?

Saya percaya pada kualitas kader Demokrat. Tentu menjadi ketua fraksi bukan pekerjaan gampang dan yang terpilih nanti harus bekerja keras.  Tapi deng­an kerja sama kami di Senayan, di kepengurusan partai, dan kader Demorat di eksekutif, saya percaya tugas itu dapat dijalan­kan dengan baik. Yang penting serius bekerja, loyal dengan garis kebijakan partai dan ber­tanggung jawab penuh atas apa yang terjadi di Senayan.

Lantas Kapan Kursi Ketua Fraksi Demokrat akan diten­tukan?

Dalam waktu yang segera. Pokoknya akan diumumkan pada hari yang baik, he-he-he...

[RM]
  • TAGS

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA