Syahrial mengenal Maya dari seorang jurnalis senior Teguh Santosa, yang menyelesaikan master hubungan internasional-nya di University Hawaii tempat Maya mengajar.
Kabar sederhana itu tiba-tiba mengubah suasana. Ada kegembiraan yang sulit disembunyikan. Momentum ini adalah kesempatan berharga dan langka karena mempertemukan dua orang yang pernah berada di panggung sejarah yang sama.
Keesokan paginya, angin Chicago menyambut kami dengan udara dingin yang tipis. Di dalam mobil, saya bersama Bang Robert, Lokot, Suhaimi, Reza dan Syahrial merasakan perjalanan yang berjalan lebih lambat dari biasanya. Mungkin karena kami tahu tujuan kami bukan sekadar sebuah museum, melainkan sebuah ruang yang menyimpan memori politik dan demokrasi dunia.
Hartanto, seorang pria asal Bangka yang telah dua dekade menjalani hidup di Amerika, mengemudikan mobil dengan tenang. Ia menyusuri jalan-jalan Chicago yang belum terlalu ramai, melewati tenda-tenda putih seperti tenda lomba-rakyat yang seminggu lalu kami selenggarakan; saya menduga itu kawasan pasar warga yang sederhana, sisi lain dari kehidupan Chicago yang berjalan dengan ritmenya sendiri.
Dari kejauhan, tampak sebuah bangunan menjulang di antara pepohonan. Obama Presidential Center. Menara itu berdiri anggun, dikelilingi taman yang luas dan ruang publik yang terbuka. Kompleks tersebut masih sangat baru, baru sekitar sebelas bulan sebelumnya diresmikan, tetapi atmosfernya sudah terasa seperti sebuah tempat yang dirancang untuk menyimpan perjalanan sejarah.
Mobil kami berhenti bersamaan dengan beberapa kendaraan lain yang membawa rombongan Presiden SBY. Ketika pintu mobil terbuka, Presiden keenam Republik Indonesia itu turun perlahan. Pandangannya segera tertuju pada patung Barack dan Michelle Obama yang berdiri di halaman. Ia tidak berhenti, tetapi di ujung tour museum beliau mengabadikan sesi khusus di monument Obama-Michel itu.
Hari itu Obama tidak berada di Chicago. Menurut keterangan Linda, ia sedang bermukim di Washington DC, seribu kilometer dari Chicago. Tepi tentu saja itu tidak menghalangi sebuah percakapan, sambungan telepon yang menghubungkan Chicago dan DC. Percakapan berlangsung lima menitan lebih, dari jauh saya mendengar kata "Demokrasi" disebut berulang. Obama membuka percakapan dengan apa kabar? dan menutupnya dengan ucapan "selamat ja-la-n" yang diucapkan terbata-bata.
Hubungan Obama dan SBY memang telah berlangsung sejak masa kepemimpinan mereka. Mereka bertemu dalam berbagai forum internasional, termasuk pertemuan G20, dan terus menjaga komunikasi setelah tidak lagi berada di pusat kekuasaan. Keduanya datang dari latar belakang berbeda, tetapi memiliki satu kesamaan: keyakinan bahwa demokrasi bukan sekadar mekanisme pergantian kekuasaan, melainkan sebuah pekerjaan panjang untuk menjaga kepercayaan rakyat.
Keduanya memiliki cerita yang hampir serupa. Mereka dikenal melalui gagasan tentang negara yang hadir bagi masyarakat luas. Di Amerika Serikat, Obama memperjuangkan Affordable Care Act atau Obamacare, sebuah kebijakan kesehatan yang bertujuan memperluas akses layanan kesehatan bagi masyarakat yang sebelumnya sulit menjangkaunya. Di Indonesia, pemerintahan SBY memperkuat fondasi sistem jaminan sosial melalui lahirnya BPJS Kesehatan yang kemudian menjadi salah satu instrumen penting negara dalam memperluas perlindungan kesehatan masyarakat. Dua kebijakan itu lahir dari gagasan yang sama: negara memiliki tanggung jawab untuk merawat warganya.
Namun sejarah politik selalu membawa ujian. Tidak semua warisan pemimpin mampu berjalan lurus setelah mereka meninggalkan panggung kekuasaan. Kebijakan publik sering kali harus berhadapan dengan perubahan politik, tekanan ekonomi, kepentingan kelompok, dan dinamika zaman.
Di bawah menara Obama Center yang megah itu, ada sebuah kesadaran yang perlahan muncul: membangun sebuah gagasan besar membutuhkan puluhan tahun, tetapi mengikisnya terkadang hanya membutuhkan beberapa keputusan politik. Demokrasi pun demikian. Ia bukan bangunan yang selesai setelah pemilu berakhir. Ia seperti taman yang harus terus dirawat. Jika berhenti dijaga, perlahan ia akan kehilangan keindahannya.
Saya berdiri memandang kompleks Obama Presidential Center itu. Sebuah monumen modern yang tidak hanya berbicara tentang seorang presiden, tetapi juga tentang sebuah cita-cita. Bahwa kekuasaan pada akhirnya bukan hanya tentang berapa lama seseorang memimpin, melainkan tentang nilai apa yang tertinggal setelah ia pergi.
Dari Chicago, kami membawa pulang sebuah pelajaran sederhana, seorang pemimpin boleh selesai masa jabatannya, mungkin ia meninggalkan istananya, tetapi gagasan tentang bagaimana negara dan kuasa seharusnya bekerja: tidak boleh ikut pergi.
Ilham Mendrofa
Fungsionaris Partai Demokrat
BERITA TERKAIT: