Di usia 15 tahun, Muhammad Darwis pergi menunaikan ibadah haji lalu tinggal menetap di Makkah selama lima tahun.
Selama itu, Muhammad Darwis berinteraksi dengan para pemikir pembaharu dalam agama Islam, semisal Muhammad Abduh, Rasyid Ridha, Al Afghani, hingga Ibnu Taimiyah. Sepulang dari Makkah tahun 1888, Muhammad Darwis mengganti namanya menjadi Ahmad Dahlan.
Pulang dari Makkah, Ahmad Dahlan menikahi Siti Walidah di Yogyakarta pada 1889. Siti Walidah tak lain adalah sepupunya sendiri. Ia adalah anak dari Kiai Penghulu Haji Fadhil. Tahun 1903, Ahmad Dahlan kembali ke Makkah dan selama dua tahun kemudian menetap di sana.
Di Makkah, Ahmad Dahlan berguru kepada Syekh Ahmad Khatib, Syaikh Ahmad Khatib al-Minangkabawi, dan Syaikh Muhammad Mahfuzh al-Tarmisi, yang juga guru dari pendiri Nahdlatul Ulama, KH Hasyim Asy’ari.
KH Ahmad Dahlan dikenal sebagai pribadi yang terbuka. Ia bersahabat tidak saja dengan sesama Muslim tetapi juga dengan para tokoh dari kalangan misionaris dan zending. Di antaranya adalah Pastur Van Lith.
Persahabatan KH Ahmad Dahlan dengan para tokoh agama nasrani tetap terbina baik kendati sering terlibat perdebatan dengan mereka.
Bahkan konon, ketika mengajar di OSVIA Magelang, KH Ahmad Dahlan mengizinkan murid-murid beragama Kristen untuk ikut ekstrakurikuler Pendidikan Agama Islam yang ia selenggarakan. OSVIA sebuah sekolah khusus Belanda dan sekolah khusus untuk anak-anak priyayi.
Tentu, kebijakannya memberikan kesempatan kepada siswa non-Muslim untuk mengenal Islam tidak hanya dari interaksi dengan Muslim tetapi juga dengan belajar isi ajarannya, ini adalah terobosan baru dalam dunia pendidikan.
Kiprah Kiai Ahmad Dahlan di dunia pendidikan dimulai dari kesungguhan dia membangun pendidikan nasional. Kesungguhan itu terlihat tatkala beliau merelakan ruang tamu rumahnya menjadi tempat pendidikan ketika membuka Madrasah Ibtidaiyah Diniyah Islamiyah (MIDI). Rintisan MIDI di rumah Kiai Dahlan itu dimulai pada 1 Desember 1911.
KH Ahmad Dahlan dikaruniai enam anak dari pernikahannya dengan Siti Walidah. Mereka adalah Djohanah, Siradj Dahlan, Siti Busyro, Irfan Dahlan, Siti Aisyah, dan Siti Zaharah.
Kiai Ahmad Dahlan juga menikahi janda dari H. Abdullah, yaitu Nyai Abdullah. Kiai Ahmad Dahlan juga diketahui pernah menikah dengan adik dari Kiai Munawwir Krapayak, yaitu Nyai Rum.
Ia juga menikahi Nyai Aisyah Cianjur, adik dari Adjengan Penghulu Cianjur, dan memiliki anak bernama Dandanah dari pernikahan tersebut.
Aneka Pembaharuan PendidikanTahun 1912, KH Ahmad Dahlan mendirikan persarikatan Muhammadiyah di Kauman, Yogyakarta. Sedangkan Siti Walidah yang lantas dikenal dengan nama Nyai Ahmad Dahlan mendirikan Aisyiyah tahun 1917.
Gagasan mendirikan Muhammadiyah dan menjadikannya sebagai sebuah organisasi adalah hasil diskusi KH Ahmad Dahlan dengan rekan-rekannya dari organisasi pergerakan nasional Boedi Oetomo. Di antaranya adalah R Budiharjo dan R Sosrosugondo.
KH Ahmad Dahlan selalu memberikan ceramah agama setiap menjelang rapat-rapat di Budi Utomo dimulai. Nama “Muhammadiyah” mulanya diusulkan oleh kerabat yang juga sahabat KH Ahmad Dahlan. Namanya Muhammad Sangidu. Ia adalah seorang penghulu di Keraton Yogyakarta.
KH Ahmad Dahlan lantas melakukan shalat istikharah sebelum kemudian memutuskan memberikan nama “Muhammadiyah” untuk persarikatan yang ia dirikan itu. KH Ahmad Dahlan memimpin Muhammadiyah dari tahun 1912 sampai tahun 1922.
Lewat Muhammadiyah, sejumlah pembaruan di bidang pendidikan diterobos KH Ahmad Dahlan. Beliau mengarahkan pendidikan agar menjadi alat untuk dakwah amar ma’ruf nahi munkar.
Jadi, tujuan pendidikan buat KH Ahmad Dahlan tidak hanya berdimensi duniawi, tetapi juga mencakup dimensi ukhrawi. Ketika mengajar, KH Ahmad Dahlan menerapkan model metode tanya jawab dan membebaskan murid-muridnya mengajukan pertanyaan.
Pembelajaran dengan teknik komunikasi dua arah itu tentu sangat berbeda dengan pendidikan tradisional yang umumnya satu arah hanya dari guru ke murid.
KH Ahmad Dahlan juga memasukkan mata pelajaran umum ke dalam proses belajar-mengajar di lembaga pendidikan Islam yang beliau rintis.
Beliau juga mengangkat citra pendidikan Islam dari yang semula bersifat non formal menjadi formal di dalam sekolah formal.
KH Ahmad Dahlan juga membuat pembaruan di sektor sarana dan prasarana pendidikan. Sebelumnya, pendidikan Islam yang dijalankan di pesantren diselenggarakan apa adanya, dengan duduk lesehan di tikar. KH Ahmad Dahlan berbeda dengan itu. Ia membuat ruang kelas lengkap dengan kursi, meja, dan papan tulis.
KH Ahmad Dahlan bahkan menjual perabotan rumahnya dan dibantu para muridnya mengerjakan sendiri pembuatan kursi dan meja itu untuk memenuhi sarana dan prasarana pendidikan waktu itu.
KH Ahmad Dahlan yang juga mengajarkan pendidikan agama secara ekstrakurikuler di sekolah-sekolah Belanda itu, pun menerapkan metode belajar dengan sistem klasikal dan struktur materi belajar sesuai jenjang pendidikan di masing-masing kelas. Persis sekolah Belanda.
Secara kelembagaan, KH Ahmad Dahlan telah berhasil meletakkan landasan lahirnya pendidikan modern, sehingga sekolah Islam telah mampu sejajar dengan sekolah-sekolah Belanda.
Hal itu berlanjut hingga kini. Sistem sekolah Islam dan madrasah yang ada sekarang ini sejatinya merupakan model lembaga pendidikan Islam yang merupakan pengembangan lebih lanjut dari sistem sekolah dan madrasah yang dulu KH Ahmad Dahlan kembangkan.
Dituduh Bawa Agama BaruSelain dikenal sebagai sosok yang aktif dalam ragam kegiatan di masyarakat dan banyak melahirkan gagasan cemerlang, KH Ahmad Dahlan yang juga dikenal sebagai wirausahawan yang berjualan batik itu adalah sosok yang mudah diterima masyarakat.
Maka tak heran, beliau pun aktif di organisasi Jam’iyatul Khair, Syarikat Islam, hingga Budi Utomo, sebelum akhirnya mendirikan Muhammadiyah tahun 1912.
Perserikatan Muhammadiyah didirikan untuk melaksanakan cita-cita dari pembaruan Islam di Nusantara. Sebab, KH Ahmad Dahlan menginginkan ada pembaruan terhadap cara berpikir maupun beramal masyarakat, namun tetap sesuai dengan tuntunan agama Islam.
KH Ahmad Dahlan ingin agar Muhammadiyah sejak awal berdirinya mampu mengajak umat Islam di Indonesia untuk kembali hidup sesuai dengan tuntunan yang ada dalam Al Qur’an dan Hadits.
Itu sebabnya, KH Ahmad Dahlan selalu menegaskan, Muhammadiyah bukan organisasi politik, melainkan organisasi yang bersifat sosial dan bergerak di bidang pendidikan.
Namun, kendati berdirinya Muhammadiyah mendapatkan dukungan yang besar dari keluarga maupun kerabat sekitarnya, tak urung muncul pula sejumlah fitnah dan tuduhan kepada KH Ahmad Dahlan.
Ia misalnya sempat dituduh akan mendirikan agama baru dan menyalahi ajaran Islam. Ada pula yang menuduh, KH Ahmad Dahlan adalah sosok kiai palsu, karena telah meniru gaya dan metode bangsa Belanda yang beragama Kristen, mengajar pula di sekolah-sekolah Belanda, hingga bergaul dekat dengan tokoh-tokoh Budi Utomo yang waktu itu kebanyakan adalah kalangan priyayi.
Waktu itu, KH Ahmad Dahlan memang juga mengajar pelajaran agama Islam di sekolah OSVIA di Magelang.
Bahkan, ada pula beberapa orang yang hendak membunuh KH Ahmad Dahlan saat itu. Namun, walau difitnah bahkan diancam, KH Ahmad Dahlan tetap teguh melanjutkan cita-cita serta pejuangan membuat banyak pembaruan.
Pada 20 Desember 1912, beliau mengajukan permohonan kepada pemerintah Hindia Belanda untuk mendapatkan badan hukum untuk Muhammadiyah.
Permohonan tersebut baru dikabulkan tahun 1914, tetapi hanya berlaku untuk daerah Yogyakarta, sehingga Muhammadiyah hanya boleh bergerak di daerah Yogyakarta saja. Sebab, waktu itu pemerintah Hindia Belanda khawatir, organisasi Muhammadiyah akan berkembang menjadi besar.
Namun begitu, KH Ahmad tetap berjalan terus. Meski pun gerakannya dibatasi, kantor cabang Muhammadiyah tetap berdiri di daerah-daerah lain, misalnya Imogiri, Wonosari, hingga Srandakan.
Sebenarnya, daerah lain juga ingin mendirikan kantor cabang. Tetapi, karena hal itu berarti menentang izin yang telah dikeluarkan pemerintah Hindia Belanda yaitu hanya untuk daerah Yogyakarta saja, KH Ahmad Dahlan lantas mengusulkan agar kantor cabang di kota lain tidak menggunakan nama Muhammadiyah.
Maka, muncullah kantor cabang Muhammadiyah di Pekalongan dengan nama Nurul Islam dan di Ujungpandang dengan nama Al Munir.
KH Ahmad Dahlan juga menyebarluaskan gagasan seputar Muhammadiyah melalui tabligh yang beliau adakan di berbagai kota. KH Ahmad Dahlan juga menggunakan relasi dagangnya untuk turut menyebarkan Muhammadiyah.
Rupanya, gagasan KH Ahmad Dahlan itu mendapat sambutan cukup bagus dari masyarakat di berbagai kota di Indonesia. Sehingga, beberapa ulama dari banyak daerah berdatangan kepada KH Ahmad Dahlan untuk menyatakan dukungan kepada gerakan Muhammadiyah.
Pada 7 Mei 1921, KH Ahmad Dahlan mengajukan permohonan kembali kepada pemerintah Hindia Belanda untuk mendirikan cabang Muhammdiyah di kota-kota selain Yogyakarta. Pada 2 September 1921, pemerintah Hindia Belanda menyetujui permohonan itu.
Pahlawan NasionalTahun 1923, KH Ahmad Dahlan wafat di usia 54 tahun dan dimakamkan di pemakaman Karangkajen di Yogyakarta.
Melalui Surat Keputusan Presiden Nomor 657 Tahun 1961, KH Ahmad Dahlan digelari Pahlawan Nasional. Istrinya, Siti Walidah atau Nyai Ahmad Dahlan juga dinobatkan sebagai pahlawan nasional berdasarkan Surat Keputusan Presiden RI Nomor 042/TK/1971.
Salah satu jasa KH Ahmad Dahlan hingga dinobatkan sebagai pahlawan nasional adalah membangkitkan kesadaran masyarakat Indonesia melalui gagasannya mengenai pembaharuan Islam serta pendidikan.
Selain itu, pemerintah juga menilai KH Ahmad Dahlan telah memelopori kebangkitan umat Islam di Indonesia untuk menyadari nasibnya sebagai suatu bangsa yang terjajah dan masih harus banyak belajar serta berbuat banyak. Dari kesadaran itu, umat Islam Indonesia lantas tergerak untuk ikut berjuang mencapai kemerdekaan Indonesia.
Melalui organisasi Muhammadiyah yang ia gagas, KH Ahmad Dahlan juga dinilai telah memberikan banyak ajaran Islam yang murni kepada bangsa Indonesia.
Ajaran yang dibawa KH Ahmad Dahlan dapat mengantarkan umat kepada kemajuan, kecerdasan, hingga beramal bagi bangsa Indonesia, tanpa melupakan dasar dari iman dan Islam.
Melalui organisasi Muhammadiyah yang ia dirikan, KH Ahmad Dahlan juga telah mempelopori amal usaha sosial serta pendidikan yang sangat diperlukan dalam kebangkitan serta kemajuan bangsa, dengan jiwa serta ajaran Islam.
Sebagai seorang yang demokratis dalam menjalankan aktivitas dari gerakan dakwahnya, KH Ahmad Dahlan juga memberikan fasilitas kepada para anggota Muhammadiyah untuk memproses evaluasi kerja serta melakukan pemilihan pemimpin di Muhammadiyah.
Selama KH Ahmad Dahlan hidup, Muhammadiyah telah melaksanakan dua belas kali pertemuan anggota setiap setahun dan saat itu menggunakan istilah Aldemeene Vergadering atau persidangan umum.
Selain itu, Muhammadiyah juga hadir sebagai organisasi yang mendorong umat Islam untuk dapat mempelajari pengetahuan agama Islam secara umum.
Ulama yang tergabung dalam organiasi Muhamadiyah pun mencari suasana serta beragam hal menarik untuk mendorong penduduk di Hindia Belanda waktu itu agar mau belajar dengan cara yang lebih maju.
Kini, Muhammadiyah telah berkembang menjadi salah satu organisasi Islam terbesar di Indonesia. Selain pendidikan, Muhammadiyah juga aktif bergerak di bidang sosial maupun kesehatan.
Di bidang kesehatan, Muhammadiyah memiliki rumah sakit umum, rumah sakit bersalin, balai kesehatan, balai pengobatan, hingga apotik.
Sedangkan di bidang sosial, Muhammadiyah punya panti asuhan yatim, panti jompo, balai kesehatan sosial, panti wreda, panti cacat netra, santunan, balai pendidikan dan keterampilan Muhammadiyah, sekolah luar biasa, serta pondok pesantren.
Keberadaan Muhammadiyah telah tersebar di seluruh 34 provinsi di Indonesia saat ini. Yang khusus, Muhammadiyah yang kini merupakan salah satu organisasi Islam terbesar di Indonesia telah turut berperan dalam membangun pendidikan nasional.
Bahkan, rasanya kita tidak bisa bicara tentang dunia Pendidikan di Indonesia tanpa menyebut nama Muhammadiyah. Sebab, faktanya ribuan sekolah telah Muhammadiyah dirikan dan operasikan di usianya yang kini telah lebih dari satu abad.
Seperti dilansir dikdasmenppmuhammadiyah.org, saat ini jumlah Sekolah Muhammadiyah adalah 7.957 sekolah yang tersebar di 34 provinsi di Indonesia.
Jumlah itu meliputi 4.623 TK/TPQ; 1.094 SD; 1.128 SMP; 558 SMA; dan 554 SMK. Selain itu, Muhammadiyah juga memiliki jenjang pendidikan perguruan tinggi.
Dikutip dari umco.ac.id, saat ini terdapat 171 Perguruan Tinggi Muhammadiyah-'Aisyiyah (PTMA), yang tersebar di seluruh penjuru Indonesia, bahkan ada yang di luar negeri.
Yogi W UtomoWartawan senior
BERITA TERKAIT: