Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat awal musim hujan di 529 Zona Musim (ZOM) atau 61,08 persen wilayah Indonesia akan mengalami kemunduran dari rata-rata klimatologisnya.
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani mengatakan kondisi tersebut dipengaruhi fenomena El Niño dengan intensitas sangat kuat serta Indian Ocean Dipole (IOD) positif yang berdampak pada berkurangnya curah hujan.
Hal itu disampaikan Faisal dalam jumpa pers bertajuk "Prediksi Musim Hujan" di Gedung MHEWS BMKG, Kemayoran, Jakarta Pusat, Selasa 22 September 2026.
"Fenomena El Niño dengan intensitas sangat kuat dan Indian Ocean Dipole (IOD) di samudra sekitar Indonesia berdampak pada berkurangnya curah hujan," ujar Faisal.
Berdasarkan pemantauan BMKG, anomali suhu muka laut di wilayah Nino3.4 Samudra Pasifik pada akhir Agustus 2026 mencapai +2,83, sedangkan indeks ENSO periode Juli-Agustus-September (JAS) berada di angka +2,63 yang mengindikasikan El Niño sangat kuat.
Di Samudra Hindia, indeks IOD pada Agustus tercatat +0,376 dan berpeluang berada pada fase positif hingga akhir tahun.
“Kombinasi fenomena El Nino dan IOD yang terjadi bersamaan ini memperparah dan memperpanjang periode kekeringan di sebagian besar wilayah Indonesia sehingga musim hujan datang terlambat dan terjadi lebih singkat,” tegas Faisal.
Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan menjelaskan, awal musim hujan tidak terjadi secara serentak. Sebagian besar wilayah diprediksi mulai memasuki musim hujan pada November dan Desember 2026.
Dari 529 ZOM yang mengalami keterlambatan, hanya 11 ZOM atau 1,12 persen wilayah daratan yang diprediksi memasuki musim hujan lebih cepat, sedangkan 26 ZOM atau 2,15 persen sesuai dengan kondisi normal.
Meski datang lebih lambat dan berlangsung lebih singkat, sifat musim hujan 2026/2027 diprediksi normal pada 510 ZOM atau 69,76 persen wilayah daratan Indonesia. Sebanyak 147 ZOM atau 18,55 persen diperkirakan lebih basah, sementara 42 ZOM atau 11,69 persen diprediksi lebih kering dari normal.
Puncak musim hujan sebagian besar wilayah diperkirakan terjadi pada Desember 2026, Januari 2027, dan Februari 2027.
“Jika dibandingkan dengan normalnya, durasi musim hujan 2026/2027 di wilayah Indonesia diprediksi lebih pendek dari normalnya pada 482 ZOM yang mencakup 51,90% luas daratan Indonesia, lebih panjang dari normalnya pada 60 ZOM yang mencakup 8,58% luas daratan Indonesia, dan sama dengan normalnya pada 40 ZOM yang mencakup 5,06% luas daratan Indonesia,” tambah Ardhasena.
Sementara itu, Direktur Perubahan Iklim BMKG A. Fachri Radjab mengatakan dampak El Niño juga terlihat dari masih panjangnya periode kemarau di berbagai daerah.
Saat ini, sebanyak 556 ZOM atau 61,91 persen luas daratan Indonesia masih mengalami musim kemarau. Sejumlah wilayah juga mencatat hari tanpa hujan (HTH) lebih dari 60 hari yang tersebar di 25 provinsi, dengan periode terpanjang tercatat di Bantul selama 131 hari atau lebih dari empat bulan.
“Bahkan El Niño 2026 menyebabkan terjadinya periode kemarau pada beberapa ZOM dengan tipe hujan sepanjang tahun,” jelasnya.
Menghadapi kondisi tersebut, BMKG meminta pemerintah dan masyarakat melakukan langkah antisipatif, terutama dalam pengelolaan air, sektor pangan, lingkungan, dan kesehatan. Di sektor pangan, penyesuaian jadwal tanam dan penggunaan varietas berumur pendek perlu dilakukan, sementara cadangan dan penggunaan air perlu dikelola secara lebih efisien.
Pemerintah daerah juga diimbau mengidentifikasi potensi sumber air, mengoptimalkan pengelolaan drainase, serta memperkuat konservasi air.
“Pemerintah daerah dan pemangku kepentingan diimbau mengidentifikasi potensi cekungan air tanah dan lokasi sumur bor, serta mengoptimalkan pengelolaan drainase dan konservasi air secara berkelanjutan,” tutur Faisal.
BMKG juga mengingatkan masyarakat mewaspadai kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), khususnya pada September-Oktober. Seiring masuknya musim hujan, kewaspadaan perlu dialihkan pada potensi banjir dan longsor dengan memastikan kesiapan drainase serta evakuasi.
Untuk sektor kesehatan dan lingkungan, pemerintah diminta mengantisipasi dampak kualitas udara yang kurang sehat akibat kemarau panjang serta potensi peningkatan penyakit yang berkaitan dengan genangan air setelah hujan dan banjir.
BMKG mengimbau seluruh pemangku kepentingan menggunakan prediksi musim hujan 2026/2027 sebagai dasar peringatan dini dan langkah antisipasi di masing-masing wilayah.
"BMKG juga mengajak masyarakat untuk mengakses informasi cuaca, iklim, dan gempa bumi melalui saluran resmi BMKG demi menekan penyebaran informasi yang belum terverifikasi dan berpotensi memicu keresahan maupun kepanikan publik," demikian Faisal menutup.
BERITA TERKAIT: