Mitos Pesugihan Gunung Kawi Mendadak Viral

Selasa, 07 Juli 2026, 15:30 WIB
Mitos Pesugihan Gunung Kawi Mendadak Viral
Gerbang masuk Gunung Kawi. (Foto: Merdeka.com)
JIKA membuka seluruh platform media sosial, belakangan ini isu pesugihan Gunung Kawi mendadak ngetop. Kehidupan warga yang makin sesak membutuhkan hiburan dan pelarian yang menyiratkan harapan.

Tiba-tiba linimasa berbagai platform media sosial belakangan ini sangat riuh dengan isu pesugihan. Gunung Kawi. Mulai dari konten gosip hingga hiburan belaka.

Kawasan ini menjadi ramai dibahas usai berbagai mitos yang melekat pada Gunung Kawi diangkat oleh Pesulap Merah. Meski begitu, hingga kini Gunung Kawi tetap menjadi salah satu tujuan yang ramai dikunjungi peziarah dari berbagai daerah. 

Sebagian datang untuk berziarah, memanjatkan doa, mengenang tokoh yang dimakamkan di sana, maupun menunaikan nazar. Di sisi lain, ada juga yang datang karena penasaran dengan sejarah, budaya, dan cerita-cerita yang berkembang di masyarakat. 

Di balik riuhnya perbincangan digital, ada gelombang rasa penasaran yang tak biasa. Mengapa tempat ini begitu lekat dengan narasi kekayaan instan? Mengapa pula di tengah era digital, isu pesugihan justru semakin menguat dan memuncaki tangga tren berita nasional?

Gunung Kawi menyimpan narasi panjang yang berkelindan antara penghormatan spiritual dan mitos modern.  Sejarah mencatat pesarean ini awalnya merupakan tempat peristirahatan terakhir Kiai Zakaria II atau Eyang Jugo dan Raden Mas Iman Soedjono atau Eyang Sujo. 

Kedua tokoh ini adalah pejuang sekaligus ulama luhur pengikut Pangeran Diponegoro yang membuka lahan di wilayah tersebut pada abad kesembilan belas. 

Awalnya, peziarah datang ke lokasi ini murni untuk mendoakan leluhur dan mengharapkan berkah spiritual atas perjuangan mereka.

Pergeseran nilai dari ruang ziarah menjadi pusat mitos pesugihan menguat pesat seiring dinamika ekonomi modern pada abad ke-20. Banyak pengusaha etnis Tionghoa dan bumiputera yang datang berdoa di tempat ini kemudian mengalami peningkatan usaha yang luar biasa dalam bisnis mereka.

Cerita kesuksesan finansial tersebut menyebar dari mulut ke mulut secara berantai di tengah masyarakat luas. Sejak itulah lahir kesalahpahaman sosiologis bahwa kesuksesan ekonomi tersebut didapatkan melalui jalan pintas pesugihan.

Narasi mistis ini tumbuh subur karena dirawat industri hiburan pop dan budaya urban yang gemar mengeksploitasi kisah horor. Tayangan mistis di televisi, majalah misteri, hingga konten media sosial modern membingkai Gunung Kawi sebagai kiblat pemburu kekayaan instan. 

Akibatnya esensi asli pesarean sebagai simbol akulturasi budaya dan perjuangan sejarah perlahan tertutup oleh kabut mistisisme.

Dalam narasi tutur yang berkembang bebas di masyarakat, ada berbagai klaim mengenai jenis ritual pesugihan di kawasan ini. Ritual pohon dewandaru menjadi salah satu cerita yang paling populer dan melegenda di telinga wisatawan. 

Masyarakat begitu percaya bahwa jika kejatuhan daun atau ranting pohon ini secara alami akan membawa keberuntungan finansial. Konon ranting atau daun tersebut harus disimpan dalam dompet atau tempat penyimpanan uang sebagai jimat penarik harta.

Jenis yang lain adalah ritual penguncian kontrak gaib di kamar-kamar khusus tersembunyi. Ada cerita yang menyebutkan bahwa pelaku ritual harus menyerahkan persembahan tertentu agar mendapat gelontoran uang gaib yang melimpah. 

Ada pula ritual ciam si di klenteng setempat yang kerap disalahartikan sebagai kode nomor keberuntungan.

Namun bisa dipastikan seluruh jenis ritual pesugihan ini hanya interpretasi liar penonton luar yang tidak memahami makna filosofis dari simbol keselamatan Jawa kuno.

Saat isu viral, tiba-tiba beredar unggahan viral yang memuat daftar tarif upacara spiritual di Gunung Kawi. 

Dokumen digital tersebut menampilkan selebaran digital dengan tajuk pesugihan ilmu putih tanpa tumbal. Selebaran ini menawarkan paket dana gaib instan. 

Ada tawaran skema penukaran uang ritual ratusan ribu rupiah untuk mendapatkan hasil klaim uang gaib hingga miliaran rupiah secara instan. Namun hasil cek fakta menunjukkan bahwa poster penawaran dana gaib tersebut adalah penipuan.

Pengelola Pesarean Gunung Kawi menyatakan tidak pernah menyediakan, mendukung, atau memfasilitasi ritual penggandaan uang gaib seperti yang tertera pada pamflet digital tersebut. 

Nomor kontak dan nama pondok supranatural yang tertera juga ulah oknum penipu luar kawasan yang memanfaatkan nama besar Gunung Kawi.

Pengelola bahkan menampilkan papan informasi resmi yang terpasang langsung di loket Pesarean Gunung Kawi. Papan tersebut memuat daftar biaya pemesanan perlengkapan selamatan dan nazar. 

Daftar harga resmi meliputi logistik upacara tradisi seperti ayam besek 130 ribu rupiah, tumpeng ayam seharga 270 ribu rupiah, serta tumpeng kambing sayur seharga 650 ribu rupiah. 

Untuk upacara besar tercantum tarif satu ekor kambing sajen 2,5 juta rupiah, satu ekor sapi sajen 20 juta rupiah, pertunjukan wayang kulit 7 juta rupiah, hingga ritual wayang ruwatan 15 juta rupiah.

Seluruh angka yang tercantum pada papan resmi tersebut adalah biaya riil akomodasi pembelian hewan ternak, bahan pangan tumpeng, serta upah jasa seniman tradisional yang mementaskan wayang. 

Biaya ini bersifat transparan agar para peziarah yang ingin menunaikan nadzar sosial tidak diperas oleh calo yang mengaku warga lokal di lapangan. Dengan demikian, tuduhan adanya tarif transaksi pesugihan resmi di Gunung Kawi salah total dan merupakan miskonsepsi dari ritual selamatan sedekah bumi yang luhur.

Mengapa hoaks dana gaib instan ini begitu mudah viral dan dipercayai? 

Sosiolog asal Prancis, Jean Baudrillard menjelaskan fenomena ini melalui teori hiperrealitas. Di ruang digital, batasan antara kenyataan dan fantasi telah lebur. 

"Simulakra tidak pernah menyembunyikan kebenaran, ia adalah kebenaran yang menyembunyikan fakta bahwa sebenarnya tidak ada kebenaran di sana. Simulakra itu sendiri adalah nyata," kata Baudrillard.

Masyarakat modern yang lelah sebenarnya tahu bahwa poster dana gaib itu palsu. Namun, kondisi sosial-politik yang menghimpit, kebijakan pemerintah dirasa makin ekstraktif, pajak melonjak, subsidi dicabut, dan regulasi jarang berpihak pada publik, maka muncul frustrasi massal.

Warganet menyikapi dengan menghanyutkan diri dalam simulasi tersebut. Mereka meresponsnya dengan humor satir dan meme konyol seperti "Info paket komplit biar bisa langsung resign". Ini bukan karena bodoh, namun sebagai bentuk katarsis dan pelarian (eskapisme).

Ketika jalur formal dan kebijakan negara tidak lagi menjanjikan kesejahteraan, manusia mengalami alienasi atau pengasingan diri. Maka keyakinan bergeser menjadi komodifikasi mistis digital. 

Menertawakan dan memviralkan tarif pesugihan adalah bentuk protes pasif publik terhadap realitas ekonomi yang mencekik. Di balik tawa konyol netizen, ada jeritan dari mereka yang lelah bekerja keras namun tak kunjung sejahtera, serta sebuah fantasi putus asa.

"Seandainya saja jalan pintas itu nyata!"rmol news logo article

Edhie Prayitno Ige
Wartawan RMOLJateng
Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google

FOLLOW US

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari RMOL.ID di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA