Pemerintah Iran menetapkan empat puluh hari berkabung nasional. Bendera diturunkan setengah tiang di seluruh penjuru negeri sebagai bentuk penghormatan dan duka cita. Markas PBB juga begitu.
Jalan-jalan utama di Teheran, Mashhad, Qom, Isfahan, dan kota-kota kecil yang biasanya riuh oleh klakson dan debu, mendadak terasa seperti halaman rumah duka raksasa yang tak bertepi.
Di alun-alun kota, poster wajah lelaki berjanggut putih itu dipasang berdampingan dengan kain hitam. Karangan bunga memenuhi trotoar. Orang-orang berjalan pelan, seolah waktu ikut menunduk. Di masjid-masjid, pengeras suara tak henti melantunkan doa dan zikir.
Lantunan Al-Qur’an bergema sejak subuh hingga larut malam, menghadirkan suasana religius yang mengingatkan kita pada tradisi haul para ulama di negeri sendiri. Jamaah duduk rapat, air mata tak terbendung, dan doa dipanjatkan seperti arus sungai yang tak pernah berhenti mengalir.
Di Qom, para pelajar hauzah berbaris membawa lentera dan kitab. Di Mashhad, para peziarah berjalan kaki menuju makam Imam Reza sambil melantunkan salawat.
Di desa-desa terpencil, orang-orang menutup toko lebih awal, berkumpul di masjid, dan mengirim doa bagi pemimpin yang mereka anggap bukan sekadar kepala negara, melainkan penjaga revolusi.
Empat puluh hari berkabung bukan sekadar angka administratif. Ia adalah ritme duka yang terukur dalam tradisi Syiah sebagai masa kontemplasi, masa penguatan memori kolektif, masa memperbarui janji kesetiaan terhadap nilai-nilai yang diyakini.
Dalam rentang waktu itu, Iran seperti menahan napas panjang antara kehilangan, kesetiaan, dan tekad melanjutkan estafet jalan sejarahnya yang telah ditoreh Ali Khamenei, sang marja’ revolusi.
-000-
Dalam perkembangan mutakhir pasca wafatnya sang pemimpin, Republik Islam Iran mengumumkan pembentukan Dewan Transisi, menggantikan kedudukan Ali Khamenei.
Dewan ini beranggotakan tiga orang, terdiri dari Presiden Masoud Pezeshkian, Ketua Mahkamah Agung Gholam-Hossein Mohseni-Ejei, dan Ayatollah Alireza Arafi.
Penunjukan Dewan tersebut dikukuhkan oleh Dewan Kemaslahatan Negara, lembaga arbitrase berpengaruh dalam struktur politik Iran. Fungsinya menjalankan tugas-tugas kenegaraan. Langkah ini diambil guna menjaga stabilitas pemerintahan hingga pemimpin tertinggi yang baru ditetapkan.
Menurut Pasal 111 Konstitusi Iran, dewan transisi ini akan menjalankan pemerintahan sampai nanti Majelis Ahli (Majles-e Khebregan-e Rahbari, dalam bahasa Persia: ???? ?????? ????? ) yang merupakan sebuah panel yang beranggotakan 88 ulama, memilih Pemimpin Tertinggi yang baru.
Konstitusi menegaskan bahwa pemilihan tersebut harus dilakukan secepat mungkin guna menjamin kesinambungan kepemimpinan negara.
Di balik struktur formal itu, berbagai pusat kekuatan tetap menjadi faktor penentu arah politik. Garda Revolusi Islam (IRGC), sebagai institusi militer sekaligus ekonomi paling kuat di Iran, diperkirakan memainkan peran penting dalam masa transisi.
Kematian komandan utamanya dalam serangan terbaru menambah kompleksitas situasi. Wakil komandan Ahmad Vahidi disebut-sebut sebagai kandidat kuat untuk memimpin lembaga elit tersebut.
Tokoh keamanan senior Ali Larijani juga dipandang berpengaruh dalam menjaga stabilitas nasional. Ia memperingatkan bahwa setiap upaya disintegrasi atau gerakan separatis akan menghadapi respons keras, seraya menegaskan bahwa rakyat dan aparat Iran siap mempertahankan keutuhan negara.
Masa transisi ini memperlihatkan bahwa struktur Republik Islam tidak bergantung pada satu figur semata, melainkan pada jaringan institusi religius, militer, dan politik yang saling menopang. Dalam perspektif para pengamat, keseimbangan kekuasaan inilah yang akan menentukan arah Iran pascakepemimpinan Khamenei.
-000-
Ayatollah Ali Khamenei diyakini secara luas merupakan keturunan ke-38 Nabi Muhammad SAW melalui garis keturunan putranya, Hussain Asghar, putra Imam Sajjad.
Sebagai seorang Sayyid (sebutan untuk keturunan Nabi dalam tradisi Islam), Khamenei diyakini memiliki garis nasab yang terhubung ke Nabi Muhammad. Ia sering memakai sorban hitam sebagai simbol kehormatan tersebut.
Ali Hosseini Khamenei lahir pada 19 April 1939 di kota suci Mashhad, Iran timur laut, dari keluarga ulama sederhana. Ayahnya, Sayyid Javad Khamenei, seorang tokoh agama dengan penghasilan terbatas.
Sang ayah membesarkannya dalam kehidupan asketis yang menekankan kesalehan, disiplin, dan kecintaan pada ilmu agama. Masa kecilnya diwarnai kesederhanaan yang kelak membentuk watak keras sekaligus ketahanan mentalnya.
Sebagai remaja, ia memasuki pendidikan agama tradisional dan kemudian melanjutkan studi ke Qom, pusat intelektual Syiah yang menjadi magnet bagi pelajar teologi dari seluruh Iran.
Di sana ia tidak hanya menyerap fikih dan tafsir klasik, tetapi juga menyaksikan pergulatan pemikiran politik Islam yang sedang berkembang di bawah bayang-bayang rezim monarki.
Di Qom, ia berguru kepada sejumlah ulama besar, termasuk Ayatollah Ruhollah Khomeini, tokoh oposisi religius yang kelak memimpin Revolusi Iran. Pertemuan intelektual dan spiritual ini menjadi titik balik penting.
Khamenei muda bukan sekadar santri yang tekun; ia menjadi aktivis bawah tanah yang mengorganisasi jaringan perlawanan dan menyebarkan pesan oposisi terhadap pemerintahan Shah.
Pada 1960-an dan 1970-an, aktivitas politiknya membuatnya berkali-kali ditangkap dan dipenjara oleh aparat keamanan kerajaan. Penahanan dan interogasi tidak mematahkan tekadnya. Sebaliknya, pengalaman itu memperkuat citranya sebagai pejuang ideologis yang siap menanggung risiko demi perubahan politik.
Ketika gelombang revolusi 1978-1979 mengguncang Iran dan memaksa Shah Reza Pahlevi meninggalkan negara itu, Khamenei termasuk tokoh religius yang aktif mengonsolidasikan kekuatan revolusioner.
Setelah revolusi berhasil dan Republik Islam berdiri, ia dengan cepat naik dalam struktur kekuasaan baru.
Pada 1981, setelah selamat dari percobaan pembunuhan yang menyebabkan salah satu lengannya lumpuh permanen, ia terpilih sebagai Presiden Iran. Jabatan tersebut saat itu bersifat administratif, sementara otoritas tertinggi tetap berada pada Pemimpin Tertinggi, Ayatollah Khomeini.
Ketika Khomeini wafat pada 1989, konstitusi diubah dan Khamenei dipilih sebagai Pemimpin Tertinggi Iran. Dari posisi inilah ia mengonsolidasikan kekuasaan negara, memperkuat institusi revolusi, serta membentuk arah politik domestik dan kebijakan luar negeri Iran selama lebih dari tiga dekade.
Memang, usia telah menua. Delapan puluh enam tahun adalah usia yang dalam banyak kebudayaan dianggap bonus panjang dari Tuhan. Tubuhnya tampak rapuh dalam beberapa tahun terakhir, langkahnya pelan, suaranya lebih lirih dibanding dekade-dekade sebelumnya.
Namun bagi para pendukungnya, usia lanjut tidak menghapus citra keteguhan yang telah dibangun selama puluhan tahun kepemimpinan.
Sepanjang hidupnya, ia memimpin Iran dalam kondisi yang nyaris permanen dikepung embargo oleh Amerika Serikat.
Sanksi ekonomi bertumpuk seperti lapisan karat pada pintu tua. Perbankan dibatasi, perdagangan dihambat, teknologi disekat, dan akses finansial global dipersempit. Negara yang kaya energi itu dipaksa belajar hidup dengan paru-paru sendiri.
Namun tekanan panjang itu justru melahirkan obsesi kemandirian. Industri militer domestik berkembang pesat. Program nuklir sipil dijadikan simbol kedaulatan teknologi.
Produksi obat, riset sains, hingga manufaktur strategis dipacu dalam semangat berdiri di atas kaki sendiri. Dalam narasi resmi negara, embargo bukan sekadar hukuman, melainkan ujian sejarah untuk membuktikan daya tahan peradaban.
Amerika Serikat, yang dalam retorika revolusi kerap disebut sebagai “setan besar”, menjadi antagonis tetap dalam panggung geopolitik Iran.
Permusuhan itu bukan sekadar konflik kebijakan, melainkan identitas politik yang diwariskan sejak revolusi 1979. Bagi sebagian rakyat Iran, perlawanan terhadap dominasi global dipandang sebagai bagian dari harga diri nasional.
Namun seperti semua tokoh besar dalam sejarah, Khamenei hidup di antara pujian dan kritik, kesetiaan dan keberatan. Ia dipuji sebagai penjaga revolusi dan simbol ketahanan nasional, tetapi juga dikritik atas represi politik dan pembatasan kebebasan sipil.
Ia dilihat sebagai pemimpin yang teguh mempertahankan kedaulatan, sekaligus figur yang mengawasi negara dengan keras. Sejarah jarang memberi ruang bagi tokoh yang sepenuhnya hitam atau putih; ia lebih sering menghadirkan warna abu-abu yang pekat.
Kini, setelah ia tiada, Iran memasuki babak baru. Duka berkabung menyatu dengan kesadaran bahwa sejarah tidak pernah berhenti menulis dirinya sendiri.
Generasi baru akan mewarisi negara yang ditempa tekanan, ideologi, dan ketahanan panjang. Mereka akan memutuskan apakah jalan lama diteruskan, diperbaiki, atau diganti dengan arah baru.
Di masjid-masjid, doa masih mengalir. Di jalan-jalan, bendera masih setengah tiang. Di rumah-rumah, televisi menyiarkan potongan pidato lama yang kini terdengar seperti wasiat sejarah.
Dan waktu, seperti biasa, berjalan tanpa menoleh. Barangkali di situlah pelajaran paling sunyi dari kematian seorang pemimpin.
Kita belajar bahwa kekuasaan pasti berakhir, tetapi ingatan kolektif terus hidup; bahwa manusia fana, tetapi gagasan dapat melampaui usia.
Kita juga belajar bahwa duka sebuah bangsa, jika direnungi dengan jernih, dapat berubah menjadi energi untuk menata masa depan yang lebih matang.
BERITA TERKAIT: