Sebelumnya, minyak bumi diperoleh dari rembesan permukaan atau penambangan manual, tetapi pengeboran Drake kemudian membuka akses ke minyak dalam jumlah besar di bawah tanah.
Penemuan sumur Spindletop tahun 1901 di Texas kemudian memicu industri minyak modern AS dan lahirnya raksasa seperti Texaco, Gulf Oil, dan Humble Oil. Amerika kemudian juga mendapatkan penemuan minyak di California yang dikenal dengan California Boom (1890-1920) dan membuat California menjadi produsen utama minyak Amerika. Minyak mendorong pertumbuhan ekonomi, kelahiran perusahaan seperti Chevron, dan transformasi Los Angeles dari kota kecil menjadi metropolis.
Perkembangan penemuan cadangan minyak ini merubah banyak hal di Amerika khususnya transportasi, dari mobilitas dengan berkuda kemudian beralih menggunakan kendaraan mobil. Ford Model T yang keluar pertama kali pada Oktober 1908 menjadi kendaraan pertama dalam sejarah yang diproduksi secara massal dengan sistem ban berjalan (assembly line) mulai 1913 dan kemudian merevolusi industri otomotif dunia.
Di laut moda transportasi juga ikut berubah dimana 1920-an kapal dagang dan kapal penumpang beralih menggunakan minyak bumi. Kapal uap batu bara perlahan dipensiunkan karena biaya operasional minyak lebih murah dan pengoperasiannya juga lebih mudah.
Amerika kemudian terlibat dalam perburuan minyak bumi dengan menandatangani Perjanjian Garis Merah (Red Line Agreement) ditandatangani pada 31 Juli 1928 di Ostend, Belgia. Perjanjian ini adalah kesepakatan rahasia antara perusahaan minyak raksasa Inggris, Belanda, dan Amerika untuk menguasai cadangan minyak di wilayah bekas Kekaisaran Ottoman (Timur Tengah). Amerika kemudian memasuki babak baru dalam hal pengelolaan energi dengan menguasai beberapa wilayah penghasil minyak bekas koloni Ottoman.
Konsumsi energi primer kemudian berubah, dari biomasa ke batubara dari batubara ke minyak berjalan secara alamiah dikarenakan manusia memilih energi yang memiliki kandungan yang lebih tinggi (energy density), biomassa 15-18 MJ./kg kemudian batubara 20 - 22 MJ/kg dan kemudian minyak bumi 42 -46 MJ/kg. Streamship atau kapal bertenaga uap batubara kemudian mulai ditinggalkan, sejarah manusia kemudian memulai babak baru dengan penggunaan kapal-kapal dengan bahan bakar minyak.
Minyak bumi kemudian menjadi komoditas strategis dunia yang diperebutkan oleh banyak negara.
Merebaknya penggunaan minyak bumi kemudian memunculkan apa yang oleh ekonom Iran Hossein Mahdavy disebut 'petrostate' - negara bergantung pada sumber daya (rentier state). Istilah 'petrostate' populer pertengahan-akhir 1970-an lewat jurnalis dan ilmuwan politik pasca embargo OPEC, digunakan media seperti NYT dan The Economist untuk Arab Saudi, Libya, Iran.
Istilah petrostate ini kemudian lebih menganalisis karakteristik negara dengan ketergantungan minyak, otoritarianisme, 'resource curse' dan menangkap realitas geopolitik baru, negara yang kekuasaan dan strukturnya dibentuk hidrokarbon.
Krisis energi tahun 73-74 kemudian membuat Amerika kemudian membuat Amerika membuat kebijakan baru terkait keamanan energi (energy security). Presiden Gerald Forld menandatangani Energy Policy and Conservation Act (EPCA) dengan membuat Strategic Petroleum Reserves dimana Amerika membentuk cadangan darurat minyak mentah.
Sementara itu pasca gangguan minyak karena invasi Soviet ke Afganistan dan adanya revolusi Iran di tahun 1979, guna memastikan pasokan minyak ke Amerika berjalan lancar, Presiden Amerika Jimmy Carter kemudian dalam pidato di tahun 1980 mengatakan bahwa upaya kekuatan luar untuk menguasai Teluk Persia akan dianggap sebagai serangan vital terhadap Amerika dan akan dihalau termasuk dengan menggunakan kekuatan militer. Pidato Carter ini kemudian dikenal dengan Carter Doctrine.
Merebaknya penggunaan minyak bumi dan batubara kemudian dianggap sebagai penyebab pemanasan global karena menghasilkan gas-gas rumah kaca. Karenanya penggunaan minyak bumi harus dibatasi, dan kemudian keluarlah konsep dekarbonisasi, proses pengurangan atau penghapusan emisi gas rumah kaca, terutama karbon dioksida (CO2), dari atmosfer untuk memitigasi pemanasan global. Hal ini dilakukan melalui transisi ke sumber energi bersih dan peningkatan efisiensi energi di berbagai sektor industri serta transportasi.
Dunia kemudian melakukan putar balik dengan mengenalkan konsep energi bersih yakni energi yang dihasilkan dari sumber yang tidak menghasilkan emisi gas rumah kaca (terutama CO2) selama proses produksinya, atau menghasilkan emisi yang sangat rendah dibandingkan bahan bakar fosil. Saat ini energi 85 persen energi dunia berasal dari energi fosil.
Dunia kemudian mulai memprioritaskan untuk menggunakan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dan juga Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB) dan kemudian kendaraan listrik untuk menggantikan energi fosil.
Perusahaan PLTB dari Denmark, Vestas merupakan industri energi bersih yang bersemangat untuk mempopulerkan PLTB. Pada tahun 80an, Vestas memasang turbin pertama di China yakni di Shandong dan Hainan dan ini menandai dibangunnya PLTB pertama di China. Proyek pionir dengan turbin 55 kW, ini memicu transfer teknologi, membantu China mempelajari karakteristik PLTB dan manajemen energi angin. Vestas lalu membangun pabrik di Tianjin.
Saat ini China adalah penghasil PLTB terbesar di dunia dengan beberapa produsen lokal seperti Envission Energy dan juga Mingyang Smart Energ dan Goldwind yang juga menjadi perusahaan PLTB terbesar di dunia.
“Produsen turbin China semakin mendominasi bisnis energi angin global," kata Cristian Dinca, asisten riset angin di BloombergNEF. Jumlah instalasi melonjak di China daratan karena provinsi-provinsi berlomba mencapai target energi terbarukan pada akhir tahun 2025. Meskipun produsen China daratan berupaya memperluas penjualan ke luar negeri, mereka masih sangat bergantung pada pasar domestik mereka, yang menyumbang hampir seluruh penambahan kapasitas mereka pada tahun 2024.
Perkembangan industri PLTB ini tidak lepas dari politik energi dan industri China. Pada Juni 2014, Xi Jinping meluncurkan strategi keamanan energi “Empat Revolusi dan Satu Kerja Sama”(Sì gè gémìng, y? gè hézuò) yang mencakup reformasi konsumsi, pasokan, teknologi, dan sistem energi, serta penguatan kerja sama internasional. Strategi ini menjadi dasar bagi gagasan membangun negara energi kuat, yang diposisikan sebagai pilar utama modernisasi dan pembangunan berkualitas tinggi China.
Dalam Rencana Lima Tahun ke-15, energi ditegaskan sebagai fondasi vital bagi ekonomi nasional dan kesejahteraan rakyat, sehingga keamanan energi diperlakukan sebagai kepentingan strategis tertinggi negara. Di tengah perubahan geopolitik, revolusi teknologi, dan percepatan transisi hijau global, Beijing melihat ketahanan energi sebagai syarat untuk bertahan dan unggul dalam persaingan kekuatan besar. Karena itu, China menargetkan pembangunan rantai pasok dan sistem inovasi energi yang mandiri, penguasaan teknologi inti global, serta penguatan basis industri dan sirkulasi domestik demi memastikan keamanan energi esensial jangka panjang.
Guna memitigasi impor minyak, China kemudian mengembangkan ekonomi berbasis Grid (sistem jaringan listrik). China memproduksi mesin panel surya, turbin angin, baterai, inverter, HVDC, kendaraan listrik. Energi tidak lagi bergerak dalam tanker, tetapi dalam elektron yang mengalir melalui kabel. China sedang membangun sesuatu yang tidak dimiliki Barat, Virtual Power Plant berskala nasional. AI memprediksi cuaca di Xinjiang, permintaan di Shanghai, ketersediaan hidro di Sichuan, lalu mengatur pembangkit dan baterai listrik.
Salah satu persoalan dari penetrasi energi terbarukan adalah kepastian pasokan yang tidak menentu dan China membuat solusi dengan membuat REM-DOC (renewable energy migration of data centers). Ini adalah konsep dalam ketenagalistrikan dan teknologi informasi yang bertujuan untuk menyelaraskan lokasi pemrosesan data komputasi dengan ketersediaan energi terbarukan secara real-time.
Selain itu perusahaan China kini produksi 72% modul surya dunia, 69% baterai lithium-ion, dan 45% turbin angin. Mereka juga kuasai sebagian besar pengolahan mineral untuk energi bersih, seperti kobalt, nikel dan lithium. China juga sedang mengembangkan PLTN dimana saat ini sedang membangun lebih dari 100 GW PLTN (pipeline). China juga memiliki penambahan kapasitas penyimpanan energi baterai (energy storage) yang sangat cepat.
Kemampuan China untuk mengintegrasikan industri ketenagalistrikan dalam skala raksasa kemudian memunculkan istilah electrostate. Istilah ini dipopulerkan The Economist sekitar tahun 2020 untuk menggambarkan negara yang kekuatannya bertumpu pada listrik dan teknologi bersih, bukan lagi minyak dan gas. Dalam kerangka ini, China dipandang sebagai contoh utama karena ekonominya makin digerakkan oleh elektrifikasi, dari energi hingga industri. Sebagai electrostate, pengaruh ekonomi dan geopolitik lahir dari dominasi surya, angin, baterai, dan kendaraan listrik. China unggul karena tingkat elektrifikasinya tinggi dan menguasai rantai pasok teknologi bersih global.
Berkebalikan dengan China, Amerika negara yang juga termasuk kedalam petrostate, saat ini sistem ketenagalistrikannya mengalami kemunduran. Sistem transmisi listrik Amerika Serikat menghadapi tantangan serius akibat infrastruktur yang menua. Dibangun antara 1950-1975, sebagian besar jaringan listrik saat ini tidak mampu menangani lonjakan permintaan yang meningkat pesat—dari rata-rata rumah tangga yang menggunakan 100 kWh tahun 1970 menjadi lebih dari 10.000 kWh pada 2025.
Buruknya sistem ketenagalistrikan di Amerika bisa dilihat ketika Pebruari tahun 2021 dimana terjadi Badai Salju Uri dimana sistem ketenagalistrikan Texas (ERCOT) runtuh ketika suhu turun drastis dan permintaan listrik melonjak dan membuat pembangkit listrik gas, batu bara, angin dan nuklir gagal mengatasi lonjakan permintaan listrik. Kegagalan ini menyebabkan lebih dari 4,5 juta pelanggan kehilangan listrik selama beberapa hari dan mengakibatkan tewasnya 246 orang akibat pemadaman listrik ini.
American Society of Civil Engineers memberi nilai D+ untuk jaringan listrik AS pada 2025, turun dari C- pada 2021. Sekitar 70% transformator listrik berusia lebih dari 25 tahun, dan sebagian besar saluran transmisi didesain untuk konsumsi listrik yang lebih rendah. Kebutuhan modern seperti mobil listrik, pusat data, dan teknologi pintar semakin memperburuk beban sistem.
Perbaikan membutuhkan investasi minimal $700 miliar, namun terhambat oleh fragmentasi kepemilikan, regulasi ketat, dan perlawanan komunitas terhadap pembangunan saluran baru. Solusi yang diusulkan meliputi teknologi smart grid, investasi pemerintah-swasta, jaringan transmisi bertegangan tinggi, dan sumber energi terdistribusi seperti panel surya atap dan penyimpanan baterai untuk mengurangi beban jaringan utama.
Di era digitalisasi segala hal (digitizing everything), kemudian pusat data (data center) dan industri Artificial Intelligence (AI) tampil sebagai industri yang rakus energi. Pusat data kini menyumbang 7% dari permintaan listrik di Amerika yang menyebabkan banyak pusat data baru tidak mendapatkan aliran listrik karena tidak cukup pembangkit. Amerika yang sudah lama melakukan alih daya (outsourcing) industrinya ke luar negeri harus menghadapi kenyataan pahit bahwa industri manufaktur (equipment suppliers) mereka banyak tergantung dengan China.
Manufacturing, exports, supply chains, shipping routes kemudian menjadi kunci bagi keamanan energi dan dorongan akan perlunya “electrifying everything”. Pada titik inilah kemudian arsitektur keamanan energi menjadi berubah. Bahwa keamanan jaringan ketenagalistrikan terkait dengan industri manufaktur dan industri manufaktur terkait dengan pasokan mineral.
Karenanya keamanan pasokan mineral menjadi elemen baru dalam arsitektur keamanan energi. Amerika menyadari hal ini dan kemudian mendorong dibentuknya Pax Silica, inisiatif strategis yang diprakarsai Amerika Serikat pada Desember 2025 untuk mengamankan rantai pasok teknologi berbasis silikon (semikonduktor, AI, mineral kritis) di tengah persaingan dengan China. Amerika juga mulai mengincar tambang-tambang di Afrika, Amerika Selatan dan Asia.
Amerika tentunya akan “bermain keras” untuk mengamankan pasokan mineral untuk industrinya. Ancaman “beri kami sumber daya mineral kamu atau kamu akan di-Maduro-kan”, mungkin akan dilakukan Amerika untuk menyaingi akses China pada negara-negara yang kaya sumber daya alam namun kacau dalam governance.
Energy Investment & PPP Specialist ENRI Indonesia
BERITA TERKAIT: