Nuan bayangkan sejenak! Jika Abu Bakar ash-Shiddiq hadir di tengah hiruk-pikuk negeri modern hari ini.
Lelaki yang lahir sekitar tahun 573 M di Mekkah, dua tahun setelah Tahun Gajah, dari garis Bani Taim Quraisy, yakni Abdullah bin Utsman bin Amir bin Amr bin Ka’ab bin Sa’ad bin Taim bin Murrah, datang bukan dengan konvoi sirene, bukan dengan baliho raksasa tersenyum setengah formal. Ia datang dengan reputasi yang membuat para pembohong sulit menatap matanya.
Sebelum Islam, ia sudah dikenal sebagai pedagang sukses, kaya, jujur, ahli nasab, paham puisi, dan cakap administrasi.
Bahasa sekarang, beliau kombinasi CEO, budayawan, dan akuntan publik, tapi tanpa drama
flexing di media sosial.
Kejujuran bukan strategi
branding baginya, melainkan napas hidup. Ia hanif, menolak menyembah berhala ketika masyarakat sekitarnya justru nyaman menyembah apa saja yang bisa dipoles emas.
Ayahnya Abu Quhafah, ibunya Ummul Khair. Ia membangun keluarga besar, yakni Qutailah, Ummu Ruman (ibu Aisyah), Asma’ binti Umais, Habibah binti Kharijah; anak-anaknya Abdullah, Abdurrahman, Muhammad, Asma’, Aisyah, Ummu Kultsum, namun tak pernah membangun dinasti kekuasaan. Apalagi membangun geng ini atau geng itu.
Ketika Nabi Muhammad SAW menerima wahyu pertama, Abu Bakar adalah salah satu orang dewasa pertama yang masuk Islam setelah Khadijah RA.
Ia langsung percaya, tanpa proposal, tanpa panitia kajian. Gelar “ash-Shiddiq” ia dapat karena membenarkan Isra Mikraj tanpa ragu. Di saat orang lain menuntut bukti langit dalam bentuk sertifikat notaris, ia berkata, “Jika Rasulullah yang berkata, maka itu benar.” Kejujuran membuatnya jernih. Orang yang jernih sulit disuap.
Ia tak hanya beriman, ia berkorban. Dengan hartanya sendiri, ia membebaskan budak Muslim yang disiksa, termasuk Bilal bin Rabah.
Ia mengajak tokoh-tokoh besar masuk Islam, seperti Utsman bin Affan, Zubair bin Awwam, Thalhah bin Ubaidillah, Abdurrahman bin Auf, Sa’ad bin Abi Waqqas, Abu Ubaidah bin Jarrah.
Ia membelanjakan kekayaannya bukan untuk memperluas jaringan bisnis, tapi memperluas jaringan iman.
Antum bayangkan, jika mentalitas seperti ini hidup di kantor-kantor kekuasaan hari ini, mungkin rapat anggaran akan terasa seperti majelis takwa, bukan festival rebutan kue.
Tahun 622 M, ia menemani Nabi dalam Hijrah ke Madinah. Tiga hari di Gua Tsur, nyawa jadi taruhan.
Al-Qur’an mengabadikan momen itu dalam At-Taubah ayat 40, “Jangan bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita.”
Ia tidak panik, tidak menyalahkan keadaan, tidak menyusun narasi pembenaran. Ia percaya. Ketika integritas sudah setinggi itu, ancaman sebesar apa pun terasa kecil.
Lalu 8 Juni 632 M, Nabi wafat. Krisis meletup. Di Saqifah Bani Sa’idah, kaum Anshar dan Muhajirin berdebat sengit soal kepemimpinan.
Riwayatnya tercatat dalam Tarikh al-Tabari dan Al-Bidayah wa an-Nihayah karya Ibnu Katsir. Panas, tegang, historis.
Namun Abu Bakar tidak memprovokasi, tidak memelintir opini. Ia memuji Anshar, menegaskan kepemimpinan Quraisy demi kesatuan umat, bahkan mengusulkan Umar atau Abu Ubaidah sebagai khalifah.
Ia tidak mengejar kursi. Justru kursi itu mengejarnya. Umar membaiatnya, yang lain mengikuti. Musyawarah selesai tanpa lemparan kursi, tanpa drama konferensi pers penuh air mata.
Sebagai Khalifat Rasulillah (632–634 M), ia menghadapi Perang Riddah. Suku-suku menolak zakat, nabi palsu seperti Musailamah muncul. Abu Bakar tegas: zakat adalah kewajiban, bukan pilihan sesuai selera.
Pasukan bergerak, Jazirah Arab kembali bersatu. Ekspansi ke Irak melawan Persia Sasaniyah dan ke Syam melawan Bizantium dimulai, seperti Walaja, Ullais, Ajnadain, Yarmuk menjadi bab pembuka perubahan dunia.
Tetapi yang paling monumental bukan hanya kemenangan militer, melainkan pengumpulan Al-Qur'an menjadi mushaf tertulis atas usul Umar setelah banyak huffaz gugur di Yamamah.
Zaid bin Tsabit ditugaskan mengumpulkan ayat dari tulang, daun, dan hafalan. Tanpa proyek pencitraan, tanpa seremoni potong pita.
Soal harta? Gajinya sebagai khalifah hanya 250 dinar per tahun plus susu kambing. Jika berlebih, dikembalikan ke Baitul Mal.
Coba bayangkan standar itu dipasang hari ini. Berapa banyak yang mendadak “demam tinggi”?
Ia wafat 23 Agustus 634 M di Madinah, usia sekitar 60–63 tahun, menunjuk Umar sebagai pengganti, dimakamkan di samping Nabi di kamar Aisyah.
So, jika Abu Bakar hidup hari ini, siapa yang berani korupsi? Bukan karena ia membawa ancaman, tetapi karena ia membawa rasa malu.
Integritasnya seperti cermin besar. Siapa pun yang berdiri di depannya akan melihat wajah sendiri tanpa filter.
Mungkin, justru itulah yang paling ditakuti sebagian penguasa, bukan hukum, bukan audit, melainkan keteladanan yang terlalu terang untuk disiasati.
Rosadi JamaniKetua Satupena Kalbar
BERITA TERKAIT: