Wirausaha Berbasis Komunitas Solusi Atasi Bonus Demografi

Senin, 09 Januari 2017, 04:28 WIB
Wirausaha Berbasis Komunitas Solusi Atasi Bonus Demografi
Abdul Rasyid
SELAIN memiliki potensi kekayaan sumber daya alam yang sangat melimpah, Bangsa Indonesia juga diberikan anugerah oleh Tuhan berupa sumber daya manusia yang unggul dari bangsa-bangsa lainnya, baik dalam aspek kualitas maupun kuantitasnya.
Terlebih bahwa keunggulan tersebut akan nampak jelas terlihat puncaknya pada beberapa tahun mendatang saat luapan generasi usia produktif akan didapat oleh bangsa ini. Luapan generasi usia produktif itu dinamakan dengan istilah bonus demografi.

Secara definitif, bonus demografi merupakan suatu fenomena di mana struktur penduduk sangat menguntungkan dari sisi pembangunan karena jumlah penduduk usia produktif sangat besar, sedang proporsi usia muda sudah semakin kecil dan proporsi usia lanjut belum banyak.

Kondisi seperti itu diprediksi akan dialami oleh bangsa Indonesia pada tahun 2020-2030. Indonesia akan memiliki sekitar 180 juta orang berusia produktif, sedang usia tidak produktif sekitar 80 juta jiwa. Sungguh merupakan jumlah yang sangat banyak sekali.

Namun demikian, bonus demografi tersebut bagai sebuah pisau bermata dua: satu sisi dapat menjadi anugerah, sedangkan sisi lainnya dapat menjadi musibah.

Dikatakan anugerah bagi bangsa ini jika luapan generasi usia produktif tersebut dapat dikelola dengan baik oleh pemerintah. Pemerintah harus dengan serius memberikan kepada mereka akses layanan pendidikan, pelatihan, dan kesehatan dengan baik, serta menyediakan lapangan pekerjaan yang cukup dan memadai.

Dengan kata lain, bonus demografi akan menjadi anugerah bagi bangsa ini jika masing-masing individunya memiliki kualitas dan profesionalitas yang baik.

Sebaliknya, jika pemerintah bersikap apatis dan 'gagap' terhadap persoalan ini, serta tidak memiliki solusi program untuk mengantisipasi banyaknya luapan penduduk usia produktif tersebut, maka musibah besar pun sedang menanti bangsa ini di kemudian hari.

Dampaknya, masalah sosial pun akan berdatangan, mulai dari jumlah pengangguran yang meningkat tinggi sehingga akan menjadi beban bagi negara, dan kriminalitas akan terjadi di mana-mana.

Mencari Solusi Alternatif

Ada banyak tawaran solusi dalam menghadapi fonomena bonus demografi ini. Seperti halnya yang ditawarkan oleh Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Muhammad Nasir. Ia menyebutkan bahwa ada dua solusi untuk mengatasi luapan penduduk usia produktif, yaitu pertama melalui skill worker, dan kedua meningkatkan jumlah generasi muda yang inovatif.

Atas dua tawaran solusi tersebut, tentu pemerintah berkewajikan untuk memberikan pendidikan dan pelatihan khusus untuk masyarakat, karena bagaimana pun keterampilan kerja dan inovasi kreatif tidak akan hadir secara kolektif dengan begitu saja.

Selain itu, jika memang benar bahwa skill worker dan inovasi kreatif dapat menjadi solusi alternatif dalam mengatasi bonus demografi, pemerintah juga harus siap untuk memberikan pinjaman modal yang cukup bagi masyarakat untuk memulai melakukan wirausaha.

Karena banyak sekali komunitas-komunitas kecil dalam masyarakat yang memiliki keahlian tertentu serta memiliki inovasi dalam aspek ekonomi kreatif, namun semua itu tidak berkembang bahkan tumbang di tengah jalan hanya dikarenakan ketiadaan atau keterbatasan modal.

Penulis sendiri menawarkan bahwa sebagai salah satu solusi untuk mengatasi bonus demografi adalah dengan mewujudkan kemandirian ekonomi masyarakat yang berbasis komunitas.

Mengingat bahwa biasanya di masing-masing desa atau kelurahan di suatu daerah pasti terdapat suatu komunitas yang terbentuk baik secara alamiah maupun yang terorganisir. Pemerintah harus mendata secara pasti seberapa banyak potensi komunitas-kominitas tersebut.

Seperti halnya Karang Taruna. Organisasi ini merupakan salah satu wadah pengembangan generasi muda yang tumbuh dan berkembang atas dasar kesadaran dan tanggung jawab sosial dari, oleh dan untuk masyarakat terutama generasi muda di wilayah desa/kelurahan yang bergerak di bidang usaha kesejahteraan sosial.

Kemudian, komunitas-komunitas tersebut harus diberikan bekal berupa pengetahuan mengenai dunia kewirausahaan dan modal yang cukup untuk melakukan wirausaha. Mereka harus dilatih, dididik, dan dibina secara berkelanjutan supaya arah geraknya terarah secara baik dan benar.

Keunggulan dari wirausaha berbasis komunitas ini adalah bahwa masyarakat mampu untuk memecahkan masalah sosial dengan cara-carainovatif antara lain dengan memadukan kearifan lokal dan inovasi sosial. Selain dari pada itu, masyarakat juga diharap mampu untuk menyeimbangkan antara antara aktivitas sosial dan aktivitas bisnis. Aktivitasbisnis/ekonomi dikembangkan untuk menjamin kemandirian dan keberlanjutanmisi sosial organisasinya.

Alhasil, bahwa jika benar 2020 adalah pintu gerbang dimulainya Bonus Demografi bagi Indonesia, berarti tersisa durasi 3 tahun lagi bagi kita semua untuk berbenah.

Sudah siap kah Indonesia menjadikan Bonus Demografi sebagai anugerah? [***]

Abdul Rasyid
Ketua Umum Karang Taruna Kota Tangerang Selatan

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA