Salah satu penyebabnya, selain menjabat wakil presiden, Gibran mempunyai tingkat pengenalan publik yang luas karena kerja-kerjanya sebagai Wapres.
Namun sisi lainnya, posisi ini jadi dilema saat nama Gibran menuai berbagai polemik, mulai dari persoalan administrasi pendidikan, rivalitas politik, hingga perdebatan mengenai latar belakang keluarganya.
Direktur Eksekutif Puspoll Indonesia, Chamad Hojin, menyoroti bagaimana kritik terhadap Gibran terlihat dominan dalam percakapan media sosial, karena interaksi membuat konten kontroversial dan perdebatan politik lebih mudah memperoleh perhatian.
“Suara yang terdengar paling keras di media sosial belum tentu mewakili mayoritas sesungguhnya,” tulis Chamad dalam keterangan yang diterima redaksi di Jakarta pada Senin, 2 November 2026.
Kendati demikian, Chamad mengajak publik untuk melihat posisi Gibran dalam sejumlah survei yang memperlihatkan bahwa berbagai polemik yang mengiringinya tidak serta-merta menghilangkan peluang politiknya.
Survei SMRC pada 1-10 Oktober 2026 mencatat elektabilitas Gibran sebesar 8,4 persen dalam simulasi semi-terbuka 24 nama calon presiden.
Itu sebabnya, posisi strategis Gibran tetap harus diimbangi dengan pembuktian kinerja, kapasitas kepemimpinan, dan akuntabilitas sebagai wakil presiden.
BERITA TERKAIT: