Menurutnya, perbaikan sarana dan prasarana pendidikan harus menjadi prioritas agar kondisi sekolah tidak menghambat anak-anak memperoleh pendidikan berkualitas.
Legislator PKB itu menilai program revitalisasi yang menjadi salah satu prioritas Presiden Prabowo Subianto perlu segera direalisasikan secara tepat sasaran, terutama bagi sekolah yang membutuhkan perbaikan mendesak.
"Kami mendukung percepatan revitalisasi sekolah rusak yang diamanahkan Presiden Prabowo Subianto terutama di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) . Jangan sampai ada anak-anak kita yang belajar dalam kondisi sekolah yang rusak dan tidak layak," ujar Habib Syarief, Minggu, 16 Agustus 2026.
Pernyataan itu disampaikan menanggapi pidato Presiden Prabowo dalam Sidang Tahunan MPR RI dan Sidang Bersama DPR-DPD RI di Kompleks Parlemen, Senayan. Presiden menargetkan seluruh sekolah, dari SD hingga pesantren, rampung direnovasi pada 2029, dengan target 71.744 satuan pendidikan direvitalisasi pada 2026.
Habib Syarief menegaskan target besar tersebut harus diikuti pelaksanaan yang cepat, tepat sasaran, dan merata, tidak sekadar mengejar jumlah sekolah yang diperbaiki. Kualitas bangunan, menurutnya, harus benar-benar memenuhi standar keamanan bagi siswa dan tenaga pendidik.
"Yang harus menjadi perhatian adalah kualitas revitalisasinya. Jangan sampai bangunannya diperbaiki tetapi beberapa waktu kemudian kembali mengalami kerusakan," katanya.
Berdasarkan data Kemendikdasmen, program revitalisasi telah menjangkau 16.167 satuan pendidikan pada 2025 sebelum targetnya diperluas menjadi 71.744 satuan pendidikan pada 2026. Habib Syarief menilai lingkungan belajar yang layak berkaitan erat dengan kualitas proses pendidikan anak.
"Anak-anak membutuhkan ruang belajar yang aman dan nyaman agar dapat berkonsentrasi, mengikuti pembelajaran dengan baik, serta mengembangkan potensi dan prestasinya secara optimal," ujarnya.
Habib Syarief juga meminta pemerintah memastikan percepatan revitalisasi menjangkau daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T), termasuk sekolah di wilayah kepulauan dan daerah terpencil. Ia mengingatkan pemerataan akses menjadi kunci agar program ini tidak hanya menyasar wilayah yang mudah dijangkau.
"Yang harus menjadi perhatian adalah kualitas revitalisasinya. Sekolah yang diperbaiki harus benar-benar menjadi tempat belajar yang aman, sehat, bersih, dan nyaman," tegasnya.
BERITA TERKAIT: