Hal tersebut diungkap Ekonom Senior Universitas Indonesia (UI), Prof Mohamad Ikhsan dikutip dari kanal YouTube Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC), Minggu, 21 Juni 2026.
Ikhsan menjelaskan, cetakan basis ekonomi nasional sejatinya sudah ditanam kuat-kuat sejak era pemerintahan Presiden ke-3 RI BJ Habibie, yang kemudian dirawat dengan baik oleh Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri.
"Apa yang dilakukan oleh Pak Habibie dan diteruskan oleh Bu Mega, kemudian
impact-nya (dampaknya) yang menerima itu adalah Pak SBY," ungkap Ikhsan.
Di era Habibie, proses mengembalikan urat nadi pertumbuhan ekonomi Indonesia dilakukan secara institusional. Caranya dengan memperkuat taji sejumlah lembaga negara yang berkaitan langsung dengan otoritas keuangan.
"Pertumbuhan ekonomi yang mendekati Orde Baru itu adalah Pak SBY. Tapi, basisnya apa? Karena institusi yang dibuat oleh Pak Habibie dan diteruskan oleh Bu Mega," tegas Ikhsan.
Ia menguraikan, kontribusi utama BJ Habibie adalah membangun pondasi institusi yang kokoh. Mulai dari melahirkan Bank Indonesia (BI) yang independen, hingga mengesahkan aturan anti-monopoli (KPPU).
Pola pikir ini, menurut Ikhsan, sangat dipengaruhi oleh latar belakang pendidikan Habibie di Jerman.
"Dia (Habibie) sangat percaya sama Bundesbank (Bank Sentral Jerman). Kemudian dia juga percaya sama anti-monopoli, itu dari kepala (basis pemikiran) Jermannya itu keluar," tambahnya.
Tak hanya itu, Ikhsan juga menyoroti keandalan tata kelola sistem fiskal di masa transisi tersebut. Penegakan prinsip disiplin anggaran sangat terasa di tubuh Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) dan Kementerian Keuangan (Kemenkeu), yang kemudian dilanjutkan secara konsisten oleh Megawati.
"Bappenas ini, karena warisan yang lama, Bappenas dan Kementerian Keuangan yang kuat. Nah, institusi itulah yang merupakan fondasi pertumbuhan (era SBY)," pungkasnya.
BERITA TERKAIT: