Pandangan itu disampaikan mantan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia, Hamid Awaluddin. Katanya, kondisi ini berpotensi mengulang pola lama seperti yang terjadi dalam perang Amerika di berbagai negara.
Menurut Hamid, Iran memiliki kombinasi kekuatan yang tidak mudah dikalahkan, yakni semangat nasionalisme rakyat dan dorongan ideologis yang kuat. Bahkan, serangan yang terjadi saat momentum keagamaan justru memperkuat perlawanan masyarakat Iran.
“Bukan hanya pemerintahnya, warga negaranya juga punya semangat melawan Amerika dan Israel. Ini gabungan nasionalisme dan ideologis,” ujarnya di Jakarta, dikutip Jumat, 27 Maret 2026.
Ia menilai, sejarah menunjukkan Amerika Serikat kerap kesulitan menghadapi pihak yang memiliki daya juang tinggi. Dalam Perang Vietnam dan Perang Korea misalnya, kekuatan teknologi militer tidak cukup untuk menjamin kemenangan.
Hal serupa juga terjadi saat menghadapi Taliban di Afghanistan. Hamid menyebut, Amerika Serikat akhirnya memilih jalur damai sebagai jalan keluar, meskipun tujuan awal tidak sepenuhnya tercapai.
“Biasanya mereka cepat-cepat menyatakan damai supaya ada exit, padahal sesungguhnya tidak mampu menaklukkan,” kata dia.
Hamid menilai pola tersebut kemungkinan besar akan terulang dalam konflik dengan Iran.
Pernyataan Presiden Donald Trump terkait opsi damai atau pemberian waktu kepada Iran disebutnya lebih sebagai langkah rasional untuk mencari alasan mundur.
“Itu hanya excuse untuk menyelamatkan muka. Bukan karena mampu menekan Iran,” tegasnya.
BERITA TERKAIT: