Pertemuan tersebut dilakukan dalam rangka menyampaikan klarifikasi sekaligus permintaan maaf secara langsung kepada Gibran terkait polemik yang sempat berkembang di ruang publik mengenai kajian yang sebelumnya ia sampaikan mengenai keaslian ijazah Presiden ke-7 RI, Joko Widodo alias Jokowi yang notabene ayahanda Gibran.
Usai pertemuan dengan Gibran, dalam keterangannya kepada awak media, Rismon menjelaskan bahwa setelah melakukan kajian lanjutan secara lebih mendalam terhadap data dan dokumen yang ada, dirinya menyimpulkan bahwa ijazah tersebut adalah asli.
“Wartawan memang butuh kalimat sederhana. Iya, asli. Karena apa, dengan kajian saya. Makanya saya bilang, truth hurts. Kebenaran itu menyakitkan. Tetapi lebih menyakitkan lagi yang saya rasakan kalau saya tidak mengungkapkannya dan lebih jujur,” tuturnya.
Dalam kesempatan tersebut, Rismon juga menyampaikan permintaan maaf atas polemik yang sempat muncul akibat kajian yang sebelumnya ia sampaikan.
“Sebagai peneliti bertanggung jawab untuk mengoreksi tulisannya, bukan menyembunyikan kebenaran sehingga dianggap bahwa penelitian sudah final, tidak ongoing, hanya demi sorak-sorai, hanya demi fanatisme, hanya demi bisa jadi kepentingan politik praktis,” pungkasnya.
Pada kesempatan terpisah, dalam keterangan tertulisnya Gibran menyampaikan bahwa langkah Rismon meninjau kembali pernyataan yang disampaikan ke publik menunjukkan kedewasaan dalam demokrasi.
Putra Sulung Jokowi itu pun mengajak seluruh masyarakat, khususnya di bulan Ramadan ini, untuk saling memaafkan dan terus menjalin tali persaudaraan.
“Bulan Ramadan adalah bulan yang sangat baik untuk saling memaafkan dan kembali merajut tali persaudaraan,” ungkap Gibran.
BERITA TERKAIT: