AHY menilai konflik tersebut berisiko menimbulkan gangguan luas, terutama pada sektor transportasi dan energi.
"kita tetap mengantisipasi," kata AHY di Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, Sabtu 28 Februari 2026.
Ketegangan terbaru pecah setelah Amerika Serikat bergabung dengan Israel melancarkan serangan udara dan laut ke sejumlah titik di Iran.
Termasuk wilayah di Teheran yang dilaporkan berada di dekat kantor Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei.
Serangan itu disebut sebagai operasi militer gabungan Washington-Tel Aviv untuk menghilangkan ancaman dari rezim Iran.
Iran kemudian membalas dengan meluncurkan gelombang rudal dan drone ke wilayah Israel serta pangkalan militer Amerika Serikat di Timur Tengah.
Situasi ini menambah ketidakpastian pada jalur perdagangan global yang melewati kawasan strategis seperti Selat Hormuz, Bab al-Mandeb, dan Terusan Suez, yang selama ini menjadi urat nadi distribusi energi dunia.
AHY menilai perang modern dengan penggunaan rudal jarak jauh membuat risiko semakin sulit diprediksi.
"Karena memang ini akan menyebabkan, bukan hanya ke manusia, tapi juga akan menyebabkan berbagai hampir yang berat di sektor ekonomi, termasuk energi dunia," kata AHY.
Ia juga menyinggung potensi gangguan terhadap penerbangan internasional jika eskalasi terus meluas.
"Pasti maskapai-maskapai juga akan menghitung kembali faktor keselamatan nomor satu," pungkas AHY.
BERITA TERKAIT: