Pengamat politik Arifki Chaniago mengatakan, meski perubahan awal hanya pada satu jabatan, dinamika politik kerap membuat efeknya merembet lebih luas.
“Dalam politik, kursi kosong jarang berhenti sebagai urusan teknis. Ia sering menjadi bola liar yang memicu evaluasi ke pos-pos lain,” ujar Arifki kepada wartawan di Jakarta Rabu 28 Januari 2026.
Menurut Arifki, posisi Wamenkeu berada di sektor strategis, sehingga kekosongannya kerap dianggap sebagai sinyal bahwa presiden sedang menilai ulang efektivitas kabinet. Hal ini menjadi salah satu alasan munculnya isu reshuffle lain, termasuk yang ramai diperbincangkan di DPR.
“Kekosongan ini bisa menjadi efek domino. Bukan berarti reshuffle pasti melebar, tetapi membuka ruang bagi presiden untuk menyelaraskan posisi di kementerian lain,” jelas Direktur Eksekutif Aljabar Strategic Indonesia itu.
Arifki menambahkan, keputusan apakah reshuffle akan meluas sepenuhnya ada di tangan Presiden Prabowo Subianto. Jika presiden memilih langkah minimal, pengisian bisa berhenti di level wakil menteri. Namun, bila ada sektor lain yang dinilai perlu diperkuat, reshuffle di kementerian lain menjadi opsi yang logis.
“Ini momentum yang sering disebut sebagai kesempatan berbenah. Presiden bisa memanfaatkan satu kursi kosong untuk menata ulang lebih dari satu posisi,” kata Arifki.
BERITA TERKAIT: