Dimensy.id Mobile
Dimensy.id
Apollo Solar Panel

Trust Indonesia: Sosok Cawapres Penentu Koalisi, KIB dan KKIR Bakal Bergabung

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/idham-anhari-1'>IDHAM ANHARI</a>
LAPORAN: IDHAM ANHARI
  • Jumat, 16 Juni 2023, 20:43 WIB
Trust Indonesia: Sosok Cawapres Penentu Koalisi, KIB dan KKIR Bakal Bergabung
Acara Trust forum yang digelar di Jakarta pada Jumat (16/6)/Ist
rmol news logo Trust Indonesia sebelumnya menyampaikan hasil survei menempatkan Sandiaga Uno, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dan Erick Thohir sebagai sosok cawapres yang paling banyak dipilih responden.

Direktur Eksekutif Trust Indonesia, Azhari Ardinal mengatakan, dalam beberapa skema simulasi (top of mind/ elektabilitas terbuka), AHY dan Sandiaga Uno berada di peringkat teratas cawapres yang memiliki elektabilitas (tingkat penerimaan) tinggi. Sementara Erick Thohir masuk dalam 10 peringkat besar.

“Dalam top of mind survei Trust Indonesia yang dirilis Februari lalu. AHY dan Sandiaga Uno masing-masing memiliki elektabilitas sebesar 8,5 persen. Sementara Erick Thohir ada di peringkat ketujuh, dengan elektabilitas sebesar 3,5 persen,” kata Azhari Ardinal dalam keterangan tertulis di Jakarta, Jumat (16/6).

Survei nasional yang digelar pada 28 Januari - 6 Februari 2023 lalu, melibatkan 2.200 responden dengan tingkat kesalahan sebesar 2,09 persen tersebut. Survei tersebut ikut memotret pilihan cawapres dalam berbagai skema dan simulasi.

Dalam simulasi 13 nama cawapres (elektabilitas tertutup), Sandiaga juga berhasil mendapat elektabilitas tinggi sebesar 6,4 persen. Baru kemudian diikuti AHY yang memiliki elektabilitas 6,1 persen dan Erick Thohir yang hanya mendapat elektabiltas 3,9 persen.

Hasil sejumlah sigi lembaga survei terbaru juga menunjukkan formasi figur Cawapres ini juga tidak berbeda dengan temuan survei Trust Indonesia. Ketiga nama tersebut: AHY, Sandi dan Erick menjadi sosok yang dianggap paling layak menjadi figur Cawapres.

Tentu saja ada nama-nama lain seperti Ridwan Kamil, Mahfud MD dan Risma yang ikut muncul sebagai cawapres potensial. Tetapi ketiga nama tadi belum atau tidak diusung secara resmi oleh partai politik untuk menjadi pasangan cawapres. Karena itu, besar kemungkinan Mahfud, Ridwan Kamil dan Risma tidak masuk dalam radar cawapres yang diusung oleh masing-masing koalisi politik.

“Trust hanya memotret nama-nama potensial yang dianggap memiliki basis dukungan partai yang jelas dan modal sosial politik yang kuat. Ketiga nama: AHY, Sandi dan Erick dinilai paling representatif,” jelas Azhari.

Sementara itu, Trust Indonesia kemudian membedah peluang ketiganya. AHY diniliai yang paling potensial menjadi figur cawapres. Selain karena kapasitasnya sebagai Ketua Umum Partai Demokrat, posisi partainya yang memegang kunci utama Koalisi Perubahan untuk Persatuan (Koalisi Perubahan), membuat AHY paling mungkin menjadi sosok Cawapres.

Akan tetapi dinamika internal koalisi yang kuat dan meragukan kompetensi AHY sebagai pendatang baru, yang membuat putra sulung Presiden SBY ini tidak kunjung diusung menjadi cawapres. Figur AHY dianggap lemah karena belum memiliki pengalaman dan keberhasilan dalam jabatan publik.

Karena itu, meski AHY akan menjadi pilihan rasional dalam Koalisi Perubahan akan tetapi keterpilihan AHY sebagai cawapres akan sangat bergantung kepada lobi dan transaksi politik yang terjadi di dalam koalisi tersebut.

Sebaliknya, Sandiaga meski bukan Ketua Umum Partai, juga punya kans yang paling diunggulkan sebagai cawapres. Selain karena faktor sejarah Sandi pernah menjadi cawapres, dirinya saat ini memiliki modal popularitas dan elektabilitas yang tinggi lantaran posisinya sebagai Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf).

Apalagi, baru dua hari belakangan, Sandi menjadi anggota Partai Persatuan Pembangunan (PPP) yang merupakan partai Islam bersejarah dan masih memiliki basis yang kuat di seluruh Indonesia. Pilihan ini tentu bukan tanpa alasan. Sandi memahami bahwa dirinya akan mampu mengambil keterwakilan PPP yang sudah bergabung dengan PDIP. Terlebih, ada informasi bahwa PDIP akan mengumumkan cawapres Ganjar pada 24 Juni mendatang.

Sementara itu, Erick Thohir juga sangat potensial menjadi cawapres karena sudah diusung secara resmi oleh Partai Amanat Nasional (PAN). Meskipun PAN hanya memiliki 6,84 persen, tapi jumlah suara tersebut cukup kontributif untuk melimbungkan Koalisi Indonesia Bersatu (KIB) atau membuat koalisi politik baru .

Posisi tawar Erick Thohir sebagai cawapres juga meningkat karena popularitasnya sebagai Menteri BUMN, Ketua Umum PSSI dan kader Nadhlatul Ulama (NU). Tidak bisa dipungkiri, ketiga pos tersebut berkelindan dengan popularitas dan dukungan kekuasaan kepada Erick Thohir.

Namun begitu, menurut Azhari, nasib akhir semua koalisi politik, akan ditentukan oleh pengumuman nama cawapres. Koalisi Perubahan akan bubar jika AHY tak menjadi cawapres, sebaliknya Koalisi Indonesia Bersatu (KIB) juga akan bubar jika Erick Thohir tidak diusung sebagai cawapres.

Berbeda dengan koalisi yang dibentuk PDIP, figur Cawapres dalam koalisi ini justru relatif tidak menjadi alat posisi tawar. PDIP akan memilih dan menetapkan siapapun cawapres yang dianggap memiliki visi yang sama. Dan, sejauh ini, partai yang memiliki parlemen threshold dan sudah menyatakan diri berkoalisi dengan koalisi PDIP, hanya PPP.

Jika usul Cawapres PPP diterima koalisi PDIP, maka mungkin hanya koalisi ini yang akan terus berlayar. Siapapun cawapresnya, PDIP paling siap berkompetisi dalam Pilpres karena memenuhi syarat angka pencalonan Presiden (Presidential Threshold) sebesar 20 persen.

Imbas tak bertemunya kepentingan penetapan nama cawapres, anggota KIB dan Koalisi Kebangkitan Indonesia Raya (KKIR) gabungan Gerindra dan PKB dipastikan akan membentuk koalisi baru yang akan mengusung capres dan cawapres baru yang belum dilontarkan selama ini.

Sebab gabungan anggota KIB dan KKIR sangat memenuhi syarat untuk mengusung pasangan capres-cawapres.

Boleh jadi Prabowo yang menjadi capres, sementara Airlangga Hartarto atau Erick Thohir yang menjadi pilihan cawapres untuk menyatukan anggota koalisi tersebut.

Yang pasti, kebuntuan dan kompetisi politik akan dipertemukan secara kompromistis karena semua partai anggota koalisi tidak akan mau melewatkan kompetisi Pilpres yang berlangsung selama 5 tahunan tersebut.

“Koalisi baru akan terbentuk dari KIB yang terpecah dan KKIR yang tetap ‘ngotot’ mengusung Prabowo sebagai calon presiden,” tutur Azhari. rmol news logo article
EDITOR: IDHAM ANHARI

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA