Bagaimana tidak, kedua Kepala Daerah itu terlihat semakin akrab saat bermain adu penalti di Jakarta International Stadium (JIS) pada Rabu kemarin (16/2). Keduanya secara bergiliran menendang bola dan menjaga gawang.
Pemandangan yang menarik perhatian publik itu sontak menuai spekulasi politik. Pasalnya, Anies Baswedan dan Ridwan Kamil selalu menempati lima besar survei nasional sebagai capres/cawapres potensial pada Pemilu 2024.
Keakraban Anies-Ridwan Kamil ini secara tidak langsung menjadi "ancaman" bagi peluang Gubenur Jawa Tengah Ganjar Pranowo sebagai sesama calon potensial pada 2024.
Terlebih, Ganjar belakangan disorot oleh masyarakat lantaran sikapnya yang dinilai anomali terhadap warga Desa Wadas, Purworejo, Jawa Tengah, yang mengalami penindasan hanya karena menolak tambang andesit.
Menurut Direktur Eksekutif Indonesia Political Review (IPR), Ujang Komarudin, apabila ditafsir secara politik, kedekatan Anies dan Ridwan Kamil bisa saja menjadi ancaman bagi Ganjar yang juga masuk bursa capres potensial 2024 di sejumlah lembaga survei nasional.
"Keakraban Anies-Ridwan Kamil bisa jadi ancaman bagi Ganjar yang lagi sibuk urus Wadas," kata Ujang Komarudin kepada
Kantor Berita Politik RMOL di Jakarta, Kamis siang (17/2).
Menurut pengamat politik dari Universitas Al-Azhar Indonesia ini, dalam komunikasi politik, apa yang dilakukan Anies dan Ridwan Kamil itu merupakan bagian dari strategi bersama untuk curi perhatian publik.
"Bola dijadikan instrumen, karena sepak bola banyak penggemarnya dan JIS menjadi lokasi adu penalti, karena JIS merupakan legacy dari Anies," tuturnya.
"Soal apakah mereka akan berduet, itu belum tentu. Karena duet keduanya akan sulit terjadi. Sebab, keduanya tak punya partai. Partai politik tak akan mau mendukung pasangan yang dari nonparpol. Mereka berdua sering bertemu, itu karena senasib dan sepenanggungan, punya elektabilitas tapi tak punya partai," demikian Ujang Komarudin.
BERITA TERKAIT: