Bantuan biaya pendidikan itu diserahkan langsung Erick Thohir, yang juga menjabat Menteri BUMN kepada Haryati, yang tinggal di gang sempit, Kawasan Kampung Salo, Kembangan, Jakarta Barat.
Kepada Erick Thohir, Haryati bercerita sudah 10 tahun dia merawat seorang keponakannya yang tunarunggu. Dalam kurun waktu tersebut, jatuh bangun sudah dirasakannya. Termasuk saat berusaha melunasi tunggakan biaya pendidikan.
Segala cara dilakukan Haryati agar keponakannya bisa terus bersekolah di Sekolah Luar Biasa (SLB). Menjadi buruh cuci, menjual siomay, dan berbagai usaha lainnya. Hingga tiba waktu jatuh tempo, Haryati terpaksa berutang ke koperasi karena uangnya belum terkumpul.
"Saya banyak utangnya Pak. Di sini yang masih sekolah ada lima, yang tunarungu paling kecil umur 10 tahun," tutur Haryati saat berbincang dengan Erick, Senin (7/2).
Haryati pada hanya bisa mengandalkan pendapatan empat anggota keluarganya yang sudah bekerja. Satu bekerja sebagai buruh serabutan, satu
office boy, satu kurir, dan satu lagi satpam. Walaupun, tidak mencukupi untuk menutup semua kebutuhan.
"Semuanya gajinya di bawah UMR Pak. Hanya untuk makan sehari-hari," ucap Haryati.
Haryati pun harus berutang ke warung untuk sekadar memenuhi kebutuhan lainnya. Hingga, utang Haryati menggunung mencapai Rp 9,3 juta.
Kehadiran Erick di kediamannya, menjadi sarat makna bagi Haryati. Pasalnya, Erick memutuskan melunasi semua utang-utangnya. Erick juga akan menjamin pendidikan keponakannya tiga tahun ke depan sampai lulus SLB.
Tak hanya itu, Erick memberikan bantuan berupa peralatan sekolah dan sejumlah mainan. Bantuan itu diberikan agar keponakan Haryati semakin semangat belajar.
"Harus tetap semangat kerja keras dan harus tetap melakukan gotong royong. Dan bersyukur kepada Allah SWT," kata Erick kepada Haryati.
Usai diberikan berbagai bantuan tersebut, Haryati mengucapkan terima kasih kepada Erick.
"Makasih banyak Pak. Semoga bapak diberi kesehatan. Berkah rezekinya, panjang umurnya, aamiin," kata Haryati tersedu.
BERITA TERKAIT: