“Pertama ada yang punya tiket, tapi kurang sehat. Kurang sehat itu elektabilitasnya masih di bawah. Tapi ada juga yang tidak punya tiket tapi ia sehat. Ia enggak punya perahu, enggak punya partai, tapi elektabilitas di tengah dan ke atas. Nah ini kan ada dua pola saya lihat,†ucap pengamat politik Ujang Komarudin kepada
Kantor Berita Politik RMOL, Kamis (11/11).
Direktur Eksekutif Indonesia Political Review (IPR) ini menuturkan, dua fenomena ini akan membuat banyak calon saling mengintip, saling mencari mana yang cocok. Baik yang punya tiket minim elektabilitas, atau yang ada elektabilitas tapi tak punya partai.
"Ini akan kompromi. Ujungnya, saya melihat tergantung dari niat. Elektabilitas dari calon-calon itu, sekarang kan belum bisa mengukur nih karena masih di bawah 30 persen, kita belum bisa mengukur tingkat kemenangan. Kalkulasi cawapresnya siapa, koalisi yang dibentuk partainya siapa, itu belum (terlihat),†tuturnya.
Dia berpendapat saat ini pertarungan calon presiden masih terlalu dini untuk diperbincangkan, terlebih elektabilitas para calon presiden masih naik turun atau flukutatif.
"Karena belum bisa dihitung, kita bisa menghitung tingkat kemenangan itu di angka elektabilitas 70 persen atau 69 persen ke atas. Kalau sekarang masih dinamis. Nanti masih ada yang stagnan, ada yang turun, ada yang naik elektabilitasnya karena belum di atas 30 persen,†demikian Ujang Komarudin.
BERITA TERKAIT: