"Sebenarnya, kami sudah mencium gejala ini sejak satu bulan yang lalu," kata AHY saat menggelar konferensi pers di DPP Partai Demokrat, Jalan Proklamasi, Jakarta Pusat, Senin (1/2).
AHY menceritakan, saat mencium gejala upaya kudeta tersebut, ia sempat mengira hanya urusan kecil dan sebatas persoalan internal partai. Namun pandangan berubah saat dirinya mendapat laporan dari pimpinan dan kader baik pusat maupun dari daerah 10 hari lalu.
"Sejak adanya laporan keterlibatan pihak eksternal dari lingkar kekuasaan, yang masuk secara beruntun pada minggu yang lalu, maka kami melakukan penyelidikan secara mendalam," tegas AHY.
Setidaknya, ada lima orang yang diduga melakukan gerakan yang dimaksud, yakni satu kader Demokrat aktif, satu kader yang sudah 6 tahun tidak aktif, satu mantan kader yang sudah 9 tahun diberhentikan dengan tidak hormat dari partai karena menjalani hukuman akibat korupsi, dan satu mantan kader yang telah keluar dari partai 3 tahun yang lalu.
Sedangkan yang nonkader partai adalah diduga seorang pejabat tinggi pemerintahan yang sedang dikonfirmasi kebenarannya.
Ia mengurai, lebih dari delapan saksi mengaku telah bertemu langsung dengan pejabat pemerintahan yang dimaksud dan mendengar secara langsung rencana-rencana upaya mengambil alih Demokrat.
"Dengan tengah dilaksanakannya gerakan pengambilalihan secara 'paksa' kepemimpinan Partai Demokrat tersebut, kami tentu akan mempertahankan kedaulatan dan kehormatan partai kami," tandasnya.
BERITA TERKAIT: