Dengan penolakan tersebut, publik kini bertanya-tanya mengenai nasib pencalonan putra Presiden Joko Widodo, Gibran Rakabuming Raka. Penolakan tersebut juga makin menguatkan rekomendasi kepada Purnomo.
Melihat fakta tersebut, pengamat politik dari lembaga survei Kedai Kopi, Hendri Satrio menilai PDIP memiliki model politik yang menarik.
“PDI Perjuangan ini memang menarik, dia tidak mau mengizinkan cuma satu kader yang maju sendirian, kalau konstelasinya sudah dibuka,†ujar Hensat, sapaan Hendri Satrio kepada
Kantor Berita Politik RMOL, Minggu (7/6).
Setidaknya ada dua strategi yang ia lihat dijalankan PDIP. Purnomo masih diperlukan dalam Pilkada 2020 demi menjaga suara PDIP, sekaligus menjaga Gibran agar tidak melawan kotak kosong.
“Nah Purnomo ini tetap dilakukan (maju Pilwakot Solo) untuk menjaga kestabilan konstelasi politik pendukung PDIP di Solo supaya tetap kompak mereka. Jadi, Gibran juga enggak lawan kotak kosong. Kan repot kalau Gibran sendirian, melawan kotak kosong. Sejarah membuktikan, melawan kotak kosong itu juga enggak dapat (berujung positif),†jelasnya.
Intinya, kata dia, keberadaan Purnomo yang tetap dipertahankan DPC semata-mata untuk menjaga suara PDIP di Solo tetap bulat, serta menjaga dinamika dan cek ombak pendukung PDIP terhadap majunya Gibran.
“Walaupun saya yakin, Megawati punya rencana baik di Solo. Tapi, keberadaan Gibran tidak bisa dipungkiri sekaligus untuk regenerasi di Solo. Karena, dibandingkan anak muda yang lain pasti Gibran lebih memiliki popularitas dan kans,†tutupnya.
BERITA TERKAIT: