Begitu disampaikan Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia dan Persatuan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (PRSSI), Hermawan Saputra, disela-sela diskusi POLEMIK MNC Trijaya FM, di Ibis Hotel, Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (29/2).
"260 juta penduduk kita, ratusan pulau, dan minimal ada puluhan bandara yang internasional destinationnya langsung dari luar negeri, ini sebenarnya memiliki risiko besar," kata Hermawan Saputra.
Hermawan Saputra mengatakan, sedikitnya ada tiga pendekatan teori yang dapat mendeteksi penyebaran virus corona yakni under reporting (sesuatu yang tidak terlapor), filed detection (gagal terdeteksi) dan dissmatch (ketidaksingkronan).
"Nah teori awalnya ini karena kita perbedaan ras. Ini juga pernah disampaikan karena kita ini tergolong dengan rumpun ras Melayu, maka resektornya dinggap berbeda," jelasnya.
Selain itu, kondisi iklim di Indonesia juga mempengaruhi imunitas. Hanya saja, segala kemungkinan bisa saja terjadi mengingat ganasnya Covid-19 ini.
"Saling berdampingan, imunitas dan kondisi lingkungan. Artinya setiap kasus itu sangat spesifik. Di Indonesia itu memang, karena geospasia dan iklim kita berbeda, semua kemungkinan bisa terjadi," demikian Hermawan Saputra.
Selain Hermawan Saputra, turut hadir dalam diskusi kali ini antara lain; Komisi VIII DPR Iskan Qolbi Lubis, Tenaga Ahli Utama KSP Dany Amrul Ichdan, Ketua Umum Asosiasi Penyelenggara Haji dan Umroh Joko Asmoro.