Pasalnya, masyarakat Kediri akan merasa dibedakan dengan masyarakat kota-kota lainnya yang dikunjungi Presiden Jokowi. Bahkan boleh jadi Jokowi tak akan pernah menyambangi Kediri.
Demikian disampaikan Ketua PP Muhammadiyah, Prof Dadang Kahmad, saat berbincang dengan
Kantor Berita Politik RMOL, Rabu (19/2).
"Menurut saya, kalau itu benar, patut disayangkan pernyataan itu karena diskriminatif. Kasihan masyarakat Kediri, karena tidak akan pernah dikunjungi kepala negara," ujar Prof Dadang Kahmad.
Menurut Dadang Kahmad, di era modern yang serbadigital ini seharusnya Pramono Anung selaku "tangan kanan" Jokowi bisa menghindari hal-hal yang berbau tahayul dan tidak masuk akal itu.
"Dalam zaman modern seperti sekarang ini, kepercayaan mistis dan tahayul sebaiknya dikalahkan oleh logika rasional dan konstitusional," pungkasnya.
BERITA TERKAIT: