Peran Tokoh Di Jagad Maya Dituntut Bisa Menentramkan

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/'></a>
LAPORAN:
  • Jumat, 05 Juli 2019, 11:42 WIB
Peran Tokoh Di Jagad Maya Dituntut Bisa Menentramkan
Oman Fathurrahman/Dok
rmol news logo Pesta demokrasi di Tanah Air melalui Pemilihan Umum (Pemilu) dan Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 telah usai dilaksanakan.

Ajang tersebut telah menciptakan ruang perbedaan dan terkadang perselisihan di antara kontestan dan para pendukungnya.

Ekspresi perbedaan dan perselisihan tidak hanya diwujudkan di dunia nyata, tetapi secara masif menyeruak di dunia maya dengan sengit. Sudah saatnya membangun gerakan rekonsiliasi pasca putusan Mahkamah Konstitusi terkait hasil Pilpres 2019.

Peran para tokoh dianggap penting untuk dapat mewujudkan rekonsiliasi itu baik di dunia maya maupun di dunia nyata.

Guru Besar Fakultas Adab dan Humaniora dari Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, Oman Fathurrahman meminta kepada para tokoh bangsa agar bisa bersama-sama menciptakan rasa tentram saat bersikap atau berbicara di media sosial. Apalagi tokoh ini di media sosial terkadang juga menjadi sasaran bully para netizen.

"Jangan terlalu diambil hati atau bersikap emosional kalau ada masyarakat yang mengomentari dengan kata-kata yang agak sinis dan sebagainya akibat dari ucapannya” ujar Oman di Jakarta.
 
Oman pun mengakui komentar itu mungkin cukup menyakitkan hati dan perasaan, tapi yang paling penting masing-masing tokoh ketika menerima kritikan atau masukan baik di dunia maya atau di dunia nyata itu harus direspon  sesuai dengan kapasitas dirinya yang ia ketahui.

"Dan menyampaikan sesuatu pendapatnya itu tentunya dengan semangat menentramkan itu tadi, jangan malah memprovokasi," kata pria kelahiran Kuningan, 8 Agustus 1969 ini.

Menurutnya, ada tiga kunci pokok yang harus dipahami para tokoh untuk menyampaikan sesuatu yang dianggap benar yakni berilmu, berbudi dan berhati-hati.

"Pertama,  berilmu. Sampaikan sesuatu itu dengan berilmu, dengan pengetahuan sesuai kapasitasnya, sehingga  tidak miss-leading," sebutnya.

Kedua, berbudi yaitu ketika menyampaikannya juga dengan arif, santun dan bijaksana, tidak dengan provokatif.

Ketiga, berhati-hati. "Siapa tahu ketika sampai suatu informasi ke kita, ternyata setelah buru-buru kita posting, karena kita tidak hati-hati dan ternyata itu keliru bisa membuat suasana menjadi tidak baik dan memanas," kata pria yang juga Staf Ahli Menteri Agama bidang Manajemen Komunikasi dan Indormas ini.

Mantan Dekan Fakultas Adab dan Humaniora dari Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta mencermati dalam konteks medsos sendiri, masih banyak pertentangan itu muncul akibat informasi berita yang tidak benar (hoax). Hal itulah yang kemudian menjadi trigger untuk munculnya persengketaan.

Oleh karenanya ia mengimbau para pengguna media sosial, ketika menerima informasi apapun itu harus dicari sumber yang paling otoritatifnya atau sumber primer.

"Termasuk dalam konteks Pilpres sekarang ini ataupun isu-isu keagamaan yang mutakhir lah yang banyak. Itu harus dicari sumber informasi atau sumber primernya yang otoritatif. Jangan hanya mengandalkan forward misalnya dari pesan WhatsApp grup dan sebagainya," katanya.rmol news logo article

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA