Asosiasi Alumni Perguruan Tinggi Seluruh Indonesia untuk Pilpres Jurdil 2019 menilai kehadiran exit poll dan quick count terkadang digunakan untuk merusak dan menggiring opini publik untuk memenangkan calon presiden dan wakil presiden tertentu.
“Pilpres jurdil dan bersih harus dilaksanakan KPU. Jangan sampai terjadi krisis kepercayaan dari rakyat,†tegas perwakilan asosiasi tersebut, Budi Riyanto.
Alumni ITB angkatan 1973 itu menyoroti rekayasa big data yang mengungkap skor 58 persen untuk pasangan calon 01 dan 41 persen untuk pasangan 02. Baginya sebaran informasi itu bagian dari sebagai rekayasa big data yang merugikan kubu Prabowo-Sandi.
“Angka rekayasa itu bakal membuat rakyat tak percaya lagi pada penyelenggara negara dan KPU. Oleh sebab itu, hal tersebut tak boleh terjadi,’’ kata Budi.
Dia menjelaskan bahwa antusiasme publik kepada kubu Prabowo-Sandi sangat tinggi di Pilpres 2019. Namun antusiasme itu kini terancam karena bayang-bayang rekayasa survei-survei, big data, dan exit poll yang bertebaran.
''Oleh sebab itu, pilpres jurdil harus dilaksanakan tanpa rekayasa. Perhitungan
real count yang jurdil dari KPU sangat mutlak diperlukan. Sekali lagi, pilpres harus jurdil dan bersih dari kecurangan agar berkualitas dan bermartabat,'' pungkasnya.
Asosiai ini sendiri terdiri dari alumni sejumlah perguruan tinggi ternama di Indonesia. Mulai dari alumni ITB, UI, UGM, Unpad, Sam Ratulangi, Undip, ITB, Brawijaya, Unair, dan ITS.
BERITA TERKAIT: