“Saya melihat ada tantangan yang besar, tentang adanya fenomena polarisasi yang semakin besar kian terasa,†kata AHY dalam pidato politiknya bertajuk “Indonesia untuk Semua†di Surabaya, Jawa Timur, Sabtu (13/4).
Semakin hari, sambung AHY, sikap saling tuding pro Pancasila dan pro Islam kian mendominasi narasi politik bangsa. Padahal, kata dia, narasi-narasi politik identitas itu telah muncul sejak Pemilukada 2012 ataupun Pilpres 2014.
“Tapi di 2019 ini, sikap saling curiga makin mengemuka, sikap saling membenci makin mengkristal,†ujarnya.
Untuk itu, AHY meminta agar para pemimpin dan elite negeri ini tidak makin meruncingkan sikap perbedaan sehingga keutuhan Indonesia dan rakyat Indonesia bisa kembali lagi merajut kebersamaan sesama anak bangsa.
Dalam pidato politiknya itu, AHY menyampaikan tiga pikiran pokok partai Demokrat, yakni bagaimana meredam polarisasi, merekatkan kembali jurang perbedaaan sesama anak bangsa, dan bagaimana menata NKRI untuk kedepannya.
Pidato tersebut turut dihadiri oleh petinggi partai Demokrat yang juga mantan Gubernur Jawa Timur, Soekarwo.
BERITA TERKAIT: