Hal itu disampaikan pengamat hubungan intenasional dari Universitas Bina Nusantara, Dinna Wisnu menanggapi pernyataan Joko Widodo bahwa tim sukses menggunakan propaganda ala Rusia.
"Para kandindat dan tim kampanye harus fokus untuk menyampaikan gagasan mereka bagaimana peran Indonesia lima tahun ke depan dalam politik internasional yang cenderung unipolar, di mana AS tidak mau mematuhi kesepakatan-kesepakatan multilateral," ujar Dinna Wisnu saat dihubungi
Kantor Berita Politik RMOL, Kamis (7/2)
Isu propaganda ala Rusia yang dilempar Jokowi saat kampanye akhir pekan lalu, juga hemat Dinna, perlu segera diluruskan oleh kementerian terkait di Kabinet Kerja.
"Sebagai orang timur, mungkin menambah pekerjaan bagi kementerian terkait untuk meluruskan masalah tersebut dan jangan dibiarkan menguap," kata Dinna.
Namun begitu, ia menilai terlalu jauh menyimpulkan hubungan kedua negara berpotensi rusak karena pernyataan kontroversial Jokowi tersebut.
"Indonesia-Rusia berada dalam hubungan yang baik. Saya sendiri melihat Rusia pernah mengalami hal yang lebih buruk dari sekedar pernyataan Jokowi seperti Presiden Putin dituduh terlibat dalam pembunuhan Skripal oleh pemerintah Inggris, terlibat di Krimea, dan lainnya," papar Dinna.
"Jadi mereka (Rusia) dapat memahami mana yang lebih prioritas dalam hubungan kedua negara," lanjutnya.
[wid]