Pengamat politik Bin Firman Tresnadi mengatakan, meski hanya dianggap sebagai kelakar, pernyataan Cak Imin bisa menimbulkan perpecahan di tubuh koalisi pengusung Jokowi-Maruf.
"Karena logikanya jatah menteri baru bisa dinilai dari hasil perolehan suara partai-partai," katanya saat berbincang dengan
Kantor Berita Politik RMOL, Selasa (29/1).
Menurut Bin Firman, sudah menjadi rahasia umum kalau salah satu tujuan dari partai yang tergabung dalam koalisi adalah untuk mendapatkan jatah kekuasaan.
Namun pada dasarnya, masyarakat awam pun memiliki standar tersendiri untuk sosok yang menempati posisi menteri. Standar itu adalah seorang yang memiliki kompetensi di bidangnya dan keberanian untuk mengambil kebijakan tidak populer namun baik untuk kepentingan rakyat
"Salah satu contoh menteri yang diharapkan rakyat seperti Susi Pudjiastuti atau Rizal Ramli saat beliau menjabat menteri," bebernya.
Sementara itu, meski sudah lebih dari empat tahun menjabat, tidak satu pun menteri yang berasal dari PKB menunjukkan prestasi membanggakan. Kinerja Menteri Ketenagakerjaan Hanif Dhakiri, Menteri Pemuda dan Olah raga Imam Nahrawi, Menteri Desa Eko Putro Sandjojo, dan Menristek Dikti M. Nasir terllihat biasa saja.
"Bahkan menpora harus berurusan dengan KPK. Makanya apa yang disampaikan oleh Cak Imin ini sebenarnya menunjukkan arogansi dan sifat kekanak-kanakan dalam berpolitik," tegas Bin Firman yang juga direktur eksekutif Indonesia Development Monitoring (IDM).
[wah]
BERITA TERKAIT: