SBY Post Power Syndrome, Demokrat: Aria Bima Harusnya Tegur Megawati

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/sukardjito-1'>SUKARDJITO</a>
LAPORAN: SUKARDJITO
  • Minggu, 23 Desember 2018, 14:00 WIB
rmol news logo . Pernyataan politisi PDIP, Aria Bima menuding Presiden ke-6 RI, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) post power syndrome, bisa merugikan calon presiden petahana Joko Widodo serta partainya.

Hal itu disampaikan Wakil Sekretaris Jenderal Partai Demokrat, Rachland Nashidik, sesaat lalu (Minggu, 23/12).

"Nasihat saya pada Aria Bima, berhentilah membuat blunder menyerang dan mendiskreditkan Pak SBY. Atau ia dan kubu petahana akan merugi. Masyarakat sudah lelah dan antipati pada lagak kuasa yang sewenang-wenang seperti kerap didemonstrasikan oleh politisi PDIP," ungkap Rachland.

Aria Bima menanggapi pernyataan SBY yang meminta dirinya tidak diganggu saat berkampanye pada Januari 2019 mendatang. Menurut Aria Bima pesan itu menunjukkan gejala post power syndrome SBY.

Bila, sambung Rachland, Aria Bima paham arti post power syndrome, maka yang perlu ia tegur pertama-tama adalah Megawati.

"Harus ada yang mengingatkan Megawati bahwa rakyat tidak pernah memilihnya jadi Presiden. Maka Megawati harus stop bertingkah seolah-olah ia memiliki legitimasi demokratik untuk ikut-ikutan mengatur negara. Satu-satunya hal yang membuatnya bisa berbuat demikian adalah feodalisme di tubuh PDIP yang dengan takzim dipatuhi Jokowi," tambah Rachland. [jto]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA