Pihak itu diduga merupakan orang yang tidak suka dengan kedekatan yang terjalin antara Kapolri Jenderal Tito Karnavian dengan Presiden Joko Widodo.
Begitu kata Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW) Neta S Pane menanggapi kemunculan kembali kasus dugaan perobekan buku merah perusahaan milik Basuki Hariman oleh dua penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dari unsur Polri.
“Kasusnya sudah lama, tapi kenapa baru dimunculkan lagi menjelang Pilpres 2019. Apakah ada manuver dari pihak tertentu yang tidak suka melihat kedekatan Tito dengan presiden?†kata Neta kepada
Kantor Berita Politik RMOL, Rabu (10/10).
Apalagi, sambung Neta, secara resmi Ketua KPK Agus Rahadjo telah mengklarifikasi dugaan aliran dana ke Tito tidak benar.
Bahkan Agus, juga mengatakan bahwa buku catatan keuangan tersebut hanya sebagai petunjuk yang sudah diklarifikasi dan dibantah sendiri oleh Basuki Hariman.
“Artinya, pernyataan ketua KPK itu kan suara resmi KPK dan apa perlu dipermasalahkan lagi,†ujarnya.
Begitu juga, sambung Neta, soal perusakan buku yang sudah dijelaskan ketua KPK tidak cukup bukti dan telah dihentikan penyelidikannya.
Lebih lanjut, Neta menyarankan agar di tahun politik ini KPK dan Polri terus bisa bersinergi, bukan malah diadu domba.
“Jangan mau diadu domba hingga muncul cicak buaya jilid 3. KPK harus terus agresif memburu koruptor di tahun politik ini dan Polri harus mampu maksimal menjaga keamanan hingga Pilpres 2019,†pungkasnya.
[ian]