Pakar Komunikasi Politik Unair Surabaya, Suko Widodo menjelaskan, curhatan dan juga pidato politik SBY tampak ingin membangun narasi politik untuk menggugah simpati publik.
"Itu politik narasi yang digunakan SBY dan apalagi momennya sangat tepat di tahun pemilu," jelasnya kepada
Kantor Berita Politik RMOL, Kamis (2/8).
Sayangnya, menurut Suko, penyampaian narasi itu terkesan dilakukan dengan pendekatan emosional, justru malah kurang cantik tatanannya.
"Kurang enak kalau menyampaikan argumen logis dengan pendekatan emosional, kurang variatif saja Pak SBY," tegasnya.
Presiden Ke 6 Susilo Bambang Yudhoyono sebelumnya menyebut dirinya sedang dihajar oleh lawan politiknya jelang Pilpres 2019.
Hal itu diungkapkannya di kicauan Twitternya
@SBYudhoyono, pada Rabu kemarin (1/8).
"Biasanya dalam musim pemilu, kalau berbeda posisi langsung dihajar. Saya bukan tipe manusia seperti itu. Kalau benar harus saya dukung," kata Ketua Umum Partai Demokrat ini.
[jto]