Dia mengingatkan, jangan karena kepentingan politik, orang menghilangkan sejarah yang sebenarnya.
"NU itu kan ada struktural, ada kultural. Pak Mahfud ini meski tak pernah menjabat, tak pernah menjadi ketua PB dan jabatan struktural lainnya tapi beliau sangat NU kultural yang kiprahnya selama ini di NU juga tak sedikit. Jangan karena kepentingan politik menjadi ahistoris," papar mantan rektor Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) tersebut kepada redaksi, Rabu (18/7).
Selama di Yogyakarta, ungkap Rochmat, Mahfud aktif di berbagai kegiatan NU seperti PMII maupun GP Anshor.
Selain itu, Mahfud juga pernah menjadi kader Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), partai yang kelahirannya dibidani oleh NU. Bahkan pernah duduk di DPR RI dari PKB pada periode 2004-2009. Mahfud juga menjadi salah satu murid KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), tokoh yang melahirkan PKB. Bahkan saat Gus Dur menjadi presiden, guru besar ilmu hukum Universitas Islam Indonesia (UII) itu dipercaya menjabat menteri pertahanan.
"Beliau ini menginisiasi pembentukan PMII Wahid Hasyim di Universitas Islam Indonesia. Kegiatan di lembaga-lembaga NU tak terhitung. Memang pernah di PAN, tapi beliau lebih lama di PKB. Jadi yang kecil-kecil jangan menutupi yang besar," jelas Rochmat.
Rochmat mengaku yakin jika jadi digaet Joko Widodo (Jokowi) sebagai calon wapres, Mahfud akan menambah elektabilitas. Dia menilai, Mahfud diterima dengan baik di kalangan kultural maupun struktural Nahdliyin. Kiai-kiai khos NU tidak ada yang tidak kenal Mahfud MD. Selain itu, Mahfud memiliki kelebihan lain yakni diterima di luar NU.
"Beliau ini diterima di banyak kalangan. Secara akademik tak ada yang meragukan. Saya kira Pak Mahfud pilihan yang tepat untuk Pak Jokowi. Di Yogyakarta saja, kemarin kiai-kiai dan ulama NU kumpul mendukung penuh Pak Mahfud," tandasnya.
[wah]
BERITA TERKAIT: