Pelecehan Di CFD Renggut Hak Perempuan Berekspresi

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/widian-vebriyanto-1'>WIDIAN VEBRIYANTO</a>
LAPORAN: WIDIAN VEBRIYANTO
  • Senin, 30 April 2018, 14:49 WIB
rmol news logo Pelecehan terhadap ibu dan anak dalam acara Car Free Day (CFD) di Bunderan HI, kemarin Minggu (29/4) menjadi gambaran bahwa ruang publik masih milik laki-laki.

Jurubicara PSI, Dara Kesuma Nasution menjelaskan bahwa CFD merupakan sebuah ruang publik yang harus bisa diakses secara aman dan nyaman oleh siapapun, termasuk perempuan dan anak.

Sementara dalam sebuah video yang viral di media sosial memperlihatkan bahwa ibu dan anaknya yang sedang berjalan di arena CFD dikerubungi dan dilecehkan secara fisik oleh sekelompok laki-kali.

Baginya, pelecehan itu merupakan sebuah upaya pembatasan hak bagi perempuan untuk menyuarakan pilihan politiknya. Apalagi dalam video itu juga, perempuan yang diintimidasi hanya ingin menyuarakan dukungan pada Presiden Jokowi dengan mengenakan kaos bertuliskan #DiaSibukKerja.

"Itu masuk dalam kategori pelecehan di ruang publik (street harassment). Intimidasi semacam ini menunjukkan adanya upaya untuk membatasi jalanan sebagai arena kekuasaan laki-laki, yang pada akhirnya meminggirkan perempuan," tambah Dara yang juga calon legislatif PSI dari Dapil Sumut III itu.

Lebih lanjut, dia menjelaskan bahwa street harassment menindas perempuan dengan membatasi mobilitas mereka sekaligus mencederai hak untuk bebas bergerak sebagai warga negara. Banyak perempuan yang berhenti berjalan kaki, mengubah gaya berpakaian, hingga menghindari rute tertentu hanya untuk menghindari street harassment.

"Pada akhirnya, street harassment memaksa perempuan untuk mengubah perilaku sehingga merenggut kesempatan perempuan untuk mengekspresikan diri dengan cara yang ia inginkan," katanya. [ian]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA