Para elit tersebut Muhaimin Iskandar (Cak Imin) dan Romahurmuziy (Gus Romi). Keduanya berlomba memasang baliho di beberapa titik di Medan, Sumatra Utara.
Di beberapa baliho mereka tidak segan membubuhkan kalimat "Calon Wakil Presiden". Namun yang disayangkan, keduanya tidak menuliskan program atau visi strategis untuk memimpin Indonesia.
Kontestasi baliho tersebut dinilai sebagai cerminan bahwa elit politik nasional tidak mencerdaskan warga Medan.
"Kadar pengetahuan politik rakyat dan elitnya sama-sama rendah. Kedua belah pihak saling mengamini," kata pengamat politik yang juga merupakan akademisi UMSU Shohibul Anshor Siregar saat diwawancarai
Kantor Berita RMOLSumut, Sabtu (7/4).
Shohibul pesimis, tidak ada yang dapat diperbuat untuk mengubah kebiasaan para elit nasional dalam menjajakan diri melalui baliho sebagai instrumen politik. Sebagai calon pemimpin seharusnya politisi tersebut memiliki tanggung jawab moral dalam memberi pendidikan politik kepada masyarakat.
"Ini karena elit merasa hal serupa, tidak ada moral obligation yang sakral," ujarnya.
[nes]