Pengamat politik UIN Jakarta, Adi Prayitno memaparkan alasannya.
"Pertama, untuk posisi capres agak utopis. Karena kubu petahana sudah
fix usung Jokowi dan oposisi dikunci Prabowo. Kecuali Prabowo legowo dan siap dukung Gatot sebagai capres Gerindra," terang Adi, Sabtu (7/4).
Pertimbangan kedua, lanjut Adi, deklarasi Gatot dapat dimaknai sebagai upaya "uji publik" terkait penerimaan masyarakat kepada eks Panglima TNI tersebut. Dalam konteks ini, Gatot sedang berusaha untuk bisa dilirik capres yang ada, baik Jokowi maupun Prabowo.
"Paling mungkin berpasangan dengan Prabowo. Karena antrian yang berebut cawapres Jokowi cukup panjang. Termasuk ketum-ketum (ketua umum) parpol pengusung Jokowi," jelas peneliti The Political Literacy Institute itu.
Lalu, bagaimana kans Gatot untuk berpasangan dengan Jokowi? Menurut Adi, hal tersebut, masih mungkin terjadi.
"Gatot bisa jadi cawapres Jokowi. Dengan catatan semua yang berhasrat ingin jadi cawapres Jokowi bisa 'dijinakkan' Gatot," tuturnya.
Kemudian, pertimbangan ketiga, Gatot harus berpikir realistis. Mengingat dirinya belum mendapat dukungan dari parpol mana pun.
"Realistisnya, Gatot posisi cawapres. Karena belum mengantongi dukungan parpol untuk melengkapi 20 persen syarat pencapresan. Ini tentu tak mudah," demikian Adi.
[wid]