Meskipun total jumlah masyarakat Indonesia di Ekuador hanya sekitar 60 orang dan tidak seluruhnya dapat mengikuti upacara yang dimerihakan dengan pesta rakyat itu, namun tidak mengurangi kemeriahan perayaan HUT RI di Ekuador.
Dalam kesempatan itu, Duta Besar RI untuk Quito, Diennaryati Tjokrosuprihatono menghimbau seluruh masyarakat Indonesia di Ekuador untuk terus menjaga persatuan dan kesatuan bangsa, meskipun sebagaimana di Tanah Air, masyarakat Indonesia di Ekuador juga sangat beragam meskipun jumlahnya sedikit.
"Seperti disampaikan Bapak Presiden dalam pidato kenegaraan, kita yang berada di Ekuador ini pun harus terus menjaga kebhinnekaan kita. Harus selalu bangga sebagai bangsa Indonesia dimana pun kita berada. Kita harus terus menjaga semangat kerja dan menjaga kesatuan dan persatuan bangsa," ujar Dubes dalam keterangannya, Jumat (18/8).
Usai pelaksanaan upacara, seluruh WNI yang hadir dan sejumlah sahabat Indonesia di Ekuador pun bergembira ria menikmati kemeriahaan berbagai pertandingan olahraga dan perlombaan yang dilaksanakan hingga hari ini. Kegiatan pesta rakyat sendiri dimulai dengan penendangan bola pertama oleh Duta Besar RI Quito diikuti dengan gelaran tari poco-poco dan gemmu famire oleh seluruh yang hadir baik WNI maupun sahabat-sahabat Ekuador.
Berbagai lomba khas tujuhbelasan untuk anak-anak pun digelar meriah, antara lain lomba kelereng, memasukkan bendera dan ke dalam botol, memasukkan pensil ke dalam botol serta lomba memecahkan balon dengan mata tertutup. Anak-anak yang sebagian besar merupakan anak-anak Ekuador itu pun sangat menikmati berbagai perlombaan tersebut.
Sedangkan bagi peserta dewasa disiapkan pertandingan catur, tenis meja, gaple dan tarik tambang. Disamping perlombaan hiburan semacam joget balon. Meriah sekali suasana pesta yang diselingi dengan berbagai tarian yang dilakukan bersama maupun oleh staf KBRI Quito dan seorang WNI yang juga penari.
Selain kemeriahan berbagai lomba dan hiburan, acara juga dimeriahkan dengan berbagai hidangan khas Indonesia yang tidak mudah ditemukan sehari-hari di Ekuador. Mulai dari tumpeng dan nasi kuning komplit dengan berbagai hidangan pelengkap macam rendang, ayam goreng, perkedel hingga sambal goreng kentang hingga pempek dan kue lopis.
Beberapa orang Pastor asal NTT dan Sulawesi Utara yang sudah belasan tahun menjalankan tugas sebagai misionaris di Ekuador pun sangat menikmati kebersamaan dan kemeriahan pesta rakyat itu.
[rus]
BERITA TERKAIT: